Kepala SMAN 1 Jonggat, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Mazhab, didesak segera mengundurkan diri dari jabatannya. Desakan tersebut muncul menyusul sorotan para murid terhadap kondisi dan pengelolaan sejumlah fasilitas di sekolah yang dinilai kurang maksimal.
Desakan itu disampaikan siswa dalam aksi yang dilakukan pada Senin (10/8/2026). Salah satu murid mengatakan ada sembilan poin utama yang disoroti siswa, mulai dari keterbatasan buku paket, fasilitas kelas yang rusak, kondisi ruang belajar, kelistrikan, hingga pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler.
"Kami minta kepsek ini untuk mengundurkan diri dari jabatannya," kata salah satu murid yang ditemui detikBali, Selasa (11/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Siswi kelas XI itu mengatakan persoalan ketersediaan buku paket menjadi salah satu hal yang disoroti siswa. Menurutnya, sejak duduk di kelas X, siswa harus menggunakan buku secara bergantian dengan siswa dari kelas lain.
"Padahal kan sudah ada anggaran pengadaan buku," ujarnya.
Siswa juga menyoroti kondisi sejumlah fasilitas ruang kelas. Mereka mengklaim sebagian besar kursi dalam keadaan rusak, pintu jebol, kaca jendela pecah, hingga lubang angin yang tidak memiliki penutup.
Bahkan, siswi tersebut mengatakan pernah ada siswa yang mengalami luka di bagian kening akibat tertimpa kaca yang diklaim sudah lama dalam kondisi rusak.
"Apalagi itu dulu pernah ada kotoran hewan di kelas kami. Terus guru suruh kita tutup kelas kalau sudah pulang. Padahal apa yang mau kita tutup, sedangkan pintunya aja tidak ada," bebernya.
Tak hanya itu, siswa mempersoalkan kondisi plafon dan atap sejumlah ruang kelas. Mereka menyebut terdapat plafon berlubang dan atap bocor ketika hujan turun sehingga mengganggu proses belajar.
"Tapi yang dibeli malah pot bunga, kursi pantai di perpustakaan yang tidak terlalu mendesak. Banyak pokoknya yang ndak bener di kepala sekolah ini," tegasnya.
Siswa lainnya menyampaikan hal yang sama. Ia bahkan berencana melakukan aksi kembali di Kantor Disdikpora Provinsi NTB untuk mendesak Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal agar segera mencopot Mazhab dari jabatannya.
"Kami hari ini akan bersurat ke Polsek agar dikawal besok. Rencana besok pagi kita aksi lagi di Mataram," katanya.
Di sisi lain, muncul petisi mosi tidak percaya dari sejumlah guru di SMAN 1 Jonggat. Berdasarkan data yang diterima detikBali, sebanyak 57 guru telah menandatangani mosi tidak percaya terhadap Mazhab.
Menanggapi desakan tersebut, Kepala SMAN 1 Jonggat, Mazhab, mengatakan hal itu merupakan hal yang wajar. Ia menegaskan keputusan terkait jabatan kepala sekolah bukan berada di tangan siswa, melainkan menjadi kewenangan atasan untuk melakukan evaluasi.
"Kalau soal itu bukan kewenangan dari kita. Yang mengangkat. Siapa yang mengangkat yang bisa mengevaluasi. Kan ada atasan kami, ada kepala dinas, dan itu yang mengevaluasi bekerja," ujarnya.
Menurutnya, siswa memang memiliki hak untuk menyampaikan tuntutan. Namun, tuntutan agar kepala sekolah mundur tidak bisa serta-merta menjadi dasar pengambilan keputusan.
"Tuntutan siswa itu bisa disampaikan kepada yang punya kewenangan. Tentu yang bisa jawab ya yang berwenang," tegasnya.
Mazhab kemudian mempertanyakan alasan para siswa melakukan aksi demonstrasi di kantor Disdikpora Provinsi NTB. Ia menilai seluruh tuntutan yang menjadi aspirasi mereka telah didengar dan akan dilaksanakan.
"Untuk apa? Kan semua tuntutannya dipenuhi. Kecuali tuntutan mereka ditolak," katanya.
Mazhab juga meminta agar persoalan tersebut tidak ditafsirkan sebagai upaya mempertahankan seseorang di jabatan kepala sekolah. Menurutnya, proses evaluasi harus ditempatkan secara objektif, bukan berdasarkan asumsi bahwa ada pihak yang ingin mempertahankan atau mengganti pejabat tertentu.
"Jangan dianggap semua orang ingin mempertahankan jabatan. Jangan juga menganggap semua orang ingin lama. Enggak," ujarnya.
Ia menilai kepentingan utama dalam persoalan tersebut adalah memastikan siswa tidak terus terseret dalam polemik internal sekolah. Para siswa harus kembali menjalankan tugas utamanya, yakni belajar.
"Supaya fokus belajar, tugas anak-anak. Kami layani untuk belajar," pungkasnya.