detikBali

SMAN 1 Jonggat Diliburkan Usai Siswa Demo Kepsek

Terpopuler Koleksi Pilihan

SMAN 1 Jonggat Diliburkan Usai Siswa Demo Kepsek


Edi Suryansyah - detikBali

Tampak depan gedung SMAN 1 Jonggat, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Tampak depan gedung SMAN 1 Jonggat, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). (Foto: Edi Suryansyah/detikBali)
Lombok Tengah -

Ratusan siswa SMAN 1 Jonggat, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang sehari sebelumnya mendemo kepala sekolah kini diliburkan. Kebijakan itu diambil karena pihak sekolah menggelar pertemuan bersama guru dan pejabat pendidikan untuk merespons aspirasi para siswa.

"Kami liburkan karena ada pertemuan dengan bapak-ibu guru dengan Pak Kadis, Pak KCD. Kalau anak-anak tidak didampingi kan repot," kata Kepala SMAN 1 Jonggat, Mzahab, kepada awak media, Selasa (11/8/2026).

Menurut Mazhab, aksi penyampaian aspirasi yang dilakukan siswa merupakan hal wajar mengingat mereka masih berada dalam usia sekolah. Pihak sekolah memilih duduk bersama untuk mencari solusi dan memperbaiki hal-hal yang masih menjadi kekurangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Alhamdulillah kita berupaya langsung berkoordinasi untuk mengembalikan keadaan. Kemarin para siswa menyampaikan aspirasi dengan semangat, dengan spirit bagaimana mencari solusi bersama," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Mazhab mengatakan penyampaian aspirasi dari siswa perlu dilihat dari perspektif usia mereka. Ia menyebut apa yang dianggap kurang tepat oleh orang dewasa belum tentu demikian jika dilihat dari sudut pandang anak-anak. Namun, secara umum pihaknya menilai aksi tersebut menjadi bahan evaluasi.

"Untuk ukuran anak, menyampaikan aspirasi ini wajar. Kalau ukuran kita orang dewasa mungkin merasa ini kurang, ini kelebihan. Tapi kalau untuk ukuran anak-anak, kita memaklumi. Parameternya usia anak memang seperti itu," imbuhnya.

Karena itu, kata Mazhab, pertemuan dan koordinasi dilakukan dengan semangat kebersamaan. Pihaknya juga telah mendengar seluruh aspirasi siswa dan berkomitmen menjadikannya sebagai bahan evaluasi untuk melihat pelayanan maupun fasilitas yang masih perlu dibenahi.

"Kita cari solusi, bukan mencari-cari kesalahan. Aspirasi ini bagus. Aspirasi menjadi refleksi bahwa ada hal-hal yang harus dipenuhi dan ada hal-hal yang harus diperbaiki," tegasnya.

Meski demikian, Mazhab belum memastikan seluruh poin yang disampaikan siswa merupakan persoalan yang benar-benar terjadi. Aspirasi tersebut masih perlu dianalisis dan diverifikasi.

"Belum kami analisa, belum tentu semuanya benar. Tetapi tidak mungkin semuanya salah juga. Bagian yang kurang itu kita selesaikan," katanya.

Salah satu persoalan yang disinggung siswa berkaitan dengan fasilitas listrik. Pihak sekolah menyebut proses perbaikan memang membutuhkan waktu karena teknisi yang menangani pekerjaan tersebut belum datang sebelumnya.

"Tukang listriknya yang belum datang dari kemarin. Tapi sekarang sudah datang. Artinya, segala sesuatu juga butuh proses," tuturnya.

Menurutnya, perbedaan cara pandang antara orang dewasa dan anak-anak juga perlu dipahami dalam melihat persoalan tersebut. Apa yang menurut orang dewasa sedang dalam proses penyelesaian bisa saja dipersepsikan berbeda oleh siswa.

"Namanya anak-anak, kadang mungkin sudut pandangnya berbeda. Jadi, alhamdulillah ada proses penyelesaian," pungkasnya.

Sebelumnya, ratusan siswa SMAN 1 Jonggat melayangkan protes terkait kondisi fasilitas sekolah yang dinilai belum memadai. Aksi protes yang berujung ricuh itu berlangsung di lapangan sekolah setelah para siswa mengikuti upacara bendera pada Senin (10/8/2026).

Berdasarkan informasi yang dihimpun detikBali, para siswa menyampaikan sejumlah keluhan terkait fasilitas sekolah yang tak kunjung diperbaiki. Keluhan itu termasuk fasilitas kamar mandi, musala sekolah, hingga kipas angin di beberapa ruangan kelas yang tidak berfungsi.

"Kamar mandi dan musala sampai sekarang tidak jadi-jadi. Di kelas juga ada yang tidak memiliki lampu, sementara kipas angin ada tetapi hanya jadi pajangan karena tidak berfungsi," ujar salah seorang siswa yang enggan disebut namanya, Senin siang.

Siswa juga mengeluhkan fasilitas WiFi sekolah yang tidak dapat digunakan untuk mengakses internet secara maksimal. Bahkan, mereka mengaku tidak diberikan informasi mengenai akses atau penggunaannya.



(dpw/dpw)









Hide Ads