Majelis Ulama Indonesia (MUI) Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengimbau kepada seluruh panitia karnaval dan gerak jalan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-81 ntuk tidak menerima peserta yang berkostum lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Di antaranya, laki-laki berpakaian wanita (waria), atau wanita yang menyerupai dirinya dengan laki-laki. MUI menegaskan bahwa hal tersebut merupakan sebuah tindakan yang haram dalam syariat Islam.
"Mengimbau kepada panitia penyelenggara (karnaval-gerak jalan) supaya mengadakan kegiatan yang tidak bertentangan dengan norma agama, tidak bertentangan dengan nilai nilai pancasila dan UUD 45, dan mencerminkan rasa syukur dan semangan cinta NKRI," kata Ketua MUI Lombok Tengah, TGH. Muhammad Nur Mukhtar kepada detikBali, Senin (10/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Muhammad mengataka MUI Lombok Tengah menegaskan, penggunaan pakaian yang menyerupai lawan jenis, baik dilakukan laki-laki maupun perempuan, hukumnya haram dalam syariat Islam. Larangan tersebut berlaku dalam kegiatan karnaval peringatan kemerdekaan maupun kegiatan lainnya.
"MUI Lombok Tengah menegaskan bahwa tindakan berbusana menyerupai lawan jenis (tasyabbuh) hukumnya haram dalam syariat Islam," tegasnya.
Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Ulum Praya, ini menjelaskan ketentuan tersebut sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Bajuri Jilid II halaman 97. Ia juga merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW mengenai larangan laki-laki menyerupai perempuan dan perempuan menyerupai laki-laki.
Dalam hadis itu, disebutkan bahwa Allah SWT melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki. Atas dasar itu, MUI mengimbau masyarakat agar momentum peringatan HUT Kemerdekaan RI diisi dengan berbagai kegiatan positif yang mencerminkan rasa syukur atas kemerdekaan.
"MUI Lombok Tengah menghimbau mari kita peringati hari kemerdekaan Republik Indonesia dengan kegiatan kegiatan positif yang mencerminkan rasa syukur, seperti kegiatan yang memperkuat persatuan," bebernya.
MUI juga mengajak masyarakat memperbanyak doa dan zikir sebagai bentuk rasa syukur sekaligus ikhtiar agar kehidupan masyarakat senantiasa mendapatkan keberkahan.
"Memperbanyak doa dan zikir untuk terwujudnya Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur," tegasnya.