detikBali

Bibi Ungkap Dugaan Pembakaran Santri di Lombok Berawal dari Bullying

Terpopuler Koleksi Pilihan

Bibi Ungkap Dugaan Pembakaran Santri di Lombok Berawal dari Bullying


Edi Suryansyah - detikBali

Nurul Hidayah saat mendampingi Sahid Al Hudri (13), salah satu korban yang diduga dibakar oleh rekannya. (Foto: Edi Suryansyah/detikBali)
Nurul Hidayah saat mendampingi Sahid Al Hudri (13), salah satu korban yang diduga dibakar oleh rekannya. (Foto: Edi Suryansyah/detikBali)
Lombok Tengah -

Tiga santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Rosudatussaulatiyah Al Ibrahimy, Dusun Sengkol II, Desa Mantang, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), terbakar hingga menewaskan satu orang. Salah satu korban yang kini mengalami luka bakar bernama Sahid Al Hudri (13).

Nurul Hidayah, bibi dari Al, mengungkap awal mula keponakannya diduga dibakar oleh sesama temannya di Ponpes tersebut. Nurul menyebut kejadian itu dipicu perundungan (bullying) yang dilakukan oleh terduga pelaku inisial MR (15) terhadap salah satu korban lainnya, yaitu SS (14).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tiga hari sebelum kejadian itu sempat main-main mereka ini di pondok. Kemudian saat main itu salah satu korban ditelanjangi oleh terduga pelaku," kata Nurul kepada detikBali, Sabtu (6/6/2026).

Menurut Nurul, korban kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada pimpinan Ponpes agar terduga pelaku mendapatkan hukuman. Setelah itu, dia berujar, pimpinan ponpes lantas memanggil MR.

ADVERTISEMENT

"Mungkin dihukum. Nah baru lah MR ini sempat ancam Al dan korban lainnya mau dibakar," bebernya.

Nurul mengatakan Al juga sempat menceritakan ancaman tersebut saat jadwal besuk mingguan dari keluarga. Namun, ia berusaha menenangkan korban dan menganggap hal itu sebatas candaan anak-anak.

"Waktu itu saya bilang, jangan terlalu didengar," imbuhnya.

Sehari setelah jadwal besuk itu, keluarga tiba-tiba dipanggil oleh perwakilan Ponpes agar segera ke Puskesmas Aik Darek. Kabar yang diterima keluarga menyebutkan Al mengalami sakit panas biasa.

"Katanya Al panas, sehingga saya ke sana. Tapi pas datang, saya kaget dan ndak kuat melihat dia ini. Nangis terus karena kepanasan di seluruh badannya," tutur Nurul.

Menurut Nurul, kejadian tersebut berlangsung di sebuah ruangan kosong yang sudah tak digunakan lagi. Ia menyebut rencananya para terduga pelaku akan membuat ketapel lalu membakar api di dalam ruangan untuk meluruskan kayu.

"Bensin itu ternyata sengaja dibeli oleh terduga pelaku awalnya mau ngecat kamar pondok. Tapi setelah itu dia bakar api pakai mika untuk meluruskan kayu yang dibuat jadi ketapel," bebernya.

Tak lama setelah itu, api pun dengan cepat menyambar ke tangan terduga pelaku yang menyebabkan bensin yang dipegangnya tumpah. Sementara itu, si jago merah membesar dan melalap seluruh ruangan.

"Karena ada kasur juga di sana sehingga api cepat membesar," bebernya.

Menurut Nurul, dua santri inisial MR dan YS berlari ke arah pintu hingga berhasil menyelamatkan diri. Sedangkan ADR, SAH, dan SS terjebak di dalam karena pintu tiba-tiba tak bisa dibuka dari dalam. Pintu ruangan itu baru bisa terbuka setelah didobrak dari luar oleh santri lainnya.

"Kata Al mereka sempat mau matiin api. Tapi kakinya lengket di lantai karena kena api juga. Sehingga mereka alami luka seperti ini," kata Nurul.

Nurul mengaku telah melaporkan kejadian tersebut ke Polres Lombok Tengah. Langkah hukum tersebut ditempuh lantaran pengelola Ponpes maupun terduga pelaku tak bertanggung jawab dalam pengobatan korban.

"Harapan kami itu agar ada tanggung jawab kepada anak kami ini. Paling tidak untuk pengobatan sampai sembuh total. Itu saja," pungkasnya.

Diketahui, kasus dugaan pembakaran terhadap tiga santri di Ponpes ini terungkap setelah video korban beredar dan viral di media sosial (medsos). Peristiwa itu terjadi pada Desember 2025.

Berdasarkan video yang beredar, seorang korban terlihat menangis kesakitan sambil memperlihatkan luka bakar di sejumlah bagian tubuhnya yang telah dibalut perban di rumah sakit. Terdengar juga suara keluarga yang sedang menenangkan korban. Korban mengaku kesakitan pada badan dan kakinya.




(iws/iws)











Hide Ads