detikBali

Buntut Polemik Klub Lari Bule, Nyoman Parta Soroti WNA Tinggal Permanen di Bali

Terpopuler Koleksi Pilihan

Buntut Polemik Klub Lari Bule, Nyoman Parta Soroti WNA Tinggal Permanen di Bali


Rizki Setyo Samudero - detikBali

Komunitas lari berisikan WNA di Canggu, Bali, yang viral. (Tangkapan layar Instagram @entourage.bali)
Komunitas lari beranggotakan WNA di Canggu, Bali, viral di media sosial. (Tangkapan layar Instagram @entourage.bali)
Denpasar -

Anggota Komisi III DPR RI I Nyoman Parta turut merespons dugaan diskriminasi yang dilakukan klub lari Entourage Bali. Komunitas lari yang beranggotakan warga negara asing (WNA) itu sebelumnya viral lantaran aktivitas mereka mengganggu kenyamanan warga di jalan raya.

Parta mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung maupun Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali segera berbenah. Politikus PDIP itu juga menyoroti WNA yang terindikasi tinggal permanen di Bali. Ia meminta Imigrasi agar menertibkan izin para WNA di Pulau Dewata.

"Ironisnya apa yang terjadi di Canggu seperti pembiaran, lari menguasai badan jalan fasilitas publik tanpa izin. Tidak ada yang menghentikan. Pihak desa, Dinas Perhubungan Badung, Kapolsek Kuta, Polres Badung, ada di mana saat itu?" kata Parta melalui keterangan tertulisnya, Sabtu (25/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Parta menilai pembenahan perlu dilakukan agar turis asing tidak sesuka hati saat pelesiran di Bali. Ia juga menyinggung maraknya warga asing yang melebihi izin tinggal (overstay) di Bali. Parta khawatir wisatawan asing jika tidak ditertibkan akan membangun kampung-kampung turis di Bali.

"Pariwisata membutuhkan pergantian orang, bukan orang yang menetap apalagi sampai overstay. Jadi, titik krusialnya ketika kita membiarkan desa-desa kita dijadikan kampung-kampung turis di mana mereka tinggal secara permanen," imbuhnya.

ADVERTISEMENT

Parta lantas mencontohkan banyaknya turis asing di kawasan Canggu. Ia mengingatkan pentingnya membatasi turis asing untuk tidak tinggal secara permanen. Terlebih jika turis tersebut tidak memiliki uang yang cukup selama tinggal di Bali.

"Sesungguhnya konsep wisata yang paling ideal itu jika rotasi orang itu secara kontinyu datang pergi. Kalau ada yang datang kembali selanjutnya juga dalam batas visa kunjungan mereka harus keluar dari Bali," kata anggota DPR RI asal Bali itu.

Parta lantas mencontohkan penduduk lokal di Kota Venesia, Italia, yang kian terdesak lantaran penghuninya didominasi orang asing. Menurutnya, sudah saatnya Bali mengedepankan pariwisata berkualitas ketimbang berkutat pada kuantitas.

"Kita juga mungkin bisa belajar dari Spanyol, negara ini bagus pengelolaan pariwisatanya. Fokusnya bukan lagi pada angka kunjungan wisatawan, tapi pariwisata yang memiliki nilai tinggi. Di Barcelona dan Madrid penggunaan ruang publik itu diatur ketat," imbuhnya.

Sebelumnya, ajang lari bertajuk Bali Silent Disco menjadi bulan-bulanan warganet. Event lari tersebut diduga melanggar aturan keimigrasian dan sarat diskriminasi terhadap warga lokal. Tak hanya diskriminatif, aktivitas klub lari itu juga kerap dikeluhkan lantaran mengganggu kenyamanan di jalan raya.

Event lari tersebut diketahui digelar oleh komunitas lari bernama Entourage Bali dan beranggotakan WNA. Sejumlah pendaftar dengan nomor telepon awalan +62 atau warga negara Indonesia bahkan ditolak bergabung dengan grup WhatsApp (WA) komunitas itu.



(iws/iws)











Hide Ads
LIVE