Warga mengeluh karena proyek irigasi menuju persawahan Oehani, Desa Kolabe, Kecamatan Amfoang Utara, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga kini belum rampung dikerjakan. Dari total panjang sekitar 2.000 meter, pengerjaan irigasi baru mencapai sekitar 400 meter.
"Sehingga kami sebagai petani meminta agar proyek tersebut pengerjaannya dilanjutkan karena sekarang sebagian besar petani sudah habis panen. Jadi tidak ada aktivitas petani yang mengganggu pekerjaan proyeknya lagi," ujar salah satu petani, Victor Imanuel Manoh, kepada detikBali, Senin (1/6/2026).
Victor menjelaskan irigasi tersebut sangat membantu kebutuhan air untuk persawahan warga. Meski musim tanam sempat terlambat karena pengerjaan proyek, hasil panen tahun ini disebut meningkat setelah saluran irigasi mulai difungsikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nah yang baru selesai itu sekitar 400 meter atau tidak sampai, tapi setelah pengairan ke sawah, memang hasil panen tahun ini lumayan banyak walaupun kami terlambat panen," jelas warga Desa Afoan, Kecamatan Amfoang Utara itu.
Menurut Victor, sebelumnya petani dan pihak kontraktor telah bersepakat menghentikan sementara pengerjaan proyek hingga masa panen selesai. Namun, belakangan warga mendapat informasi proyek tersebut tidak lagi dilanjutkan oleh PT Adhi Karya selaku kontraktor pelaksana dan PT Agrinas Palma Nusantara sebagai konsultan teknis.
"Sehingga kami minta segera selesaikan proyeknya supaya saat musim hujan kami langsung tanam karena ini kan sawah tadahan. Kalau misalkan sudah masuk penghujan baru lanjut kerja, maka otomatis kami terlambat panen lagi," terang Victor.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah dan pihak kontraktor karena proyek tersebut dinilai berdampak positif terhadap hasil pertanian warga.
"Kami sangat berterima kasih karena dari tanam terlambat, tapi sampai panen hasilnya cukup memuaskan berbeda dengan tahun sebelumnya," kata Victor.
Harga BBM Eceran Naik
Di sisi lain, Victor juga menyoroti kenaikan harga BBM eceran di Amfoang Utara yang mencapai Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu per liter. Kondisi itu membuat petani kesulitan mengoperasikan mesin perontok padi.
"Memang sudah habis panen, tetapi kendala kami saat ini adalah BBM karena harganya melambung tinggi. Awal panennya itu kami beli dengan harga Rp 20-30 ribu. Sekarang bilang solusinya harus beli BBM nonsubsidi, tetapi saya rasa banyak warga yang tidak akan mampu beli kalau dijual mahal," imbuh Victor.
Kepala Desa Kolabe, Isak Obes, mengatakan hingga kini belum ada kepastian terkait kelanjutan proyek tersebut. Ia menyebut pengerjaan sempat dihentikan sementara karena bertepatan dengan aktivitas petani yang sedang mengolah sawah untuk musim tanam.
"Jadi saat itu mereka bilang akan dilanjutkan setelah panen selesai, tapi sampai sekarang belum ada informasi kelanjutannya karena baru sekitar 300-400 meter yang sudah kelar," kata Isak.
Isak menegaskan warga tidak pernah menolak proyek irigasi tersebut. Menurutnya, penghentian sementara dilakukan atas permintaan warga agar aktivitas pertanian tidak terganggu.
"Oh tidak (menolak), malah kami sangat mendukung irigasi itu harus dikerjakan. Cuman saat itu bertepatan dengan aktivitas petani untuk tanam makanya mereka minta untuk hentikan sementara dan baru lanjutkan setelah panen," tegas Isak.
Proyek Sudah Dilaporkan ke Kementerian PU
Sementara itu, penyedia jasa PT Adhi Karya, Ady, menjelaskan penghentian proyek dilakukan atas permintaan masyarakat setempat. Setelah itu, paket pekerjaan diubah karena proyek telah terkena denda dan pemotongan kontrak.
"Ya dari masyarakat sendiri yang meminta disetop dari keluarga Baitanu itu. Kurang lebih seperti itu, mereka sendiri yang meminta untuk disetop. Nah sekarang kalau seperti (diminta melanjutkan pengerjaan), itu tidak bisa juga karena sudah dilaporkan ke Kementerian PU," kata Ady.
Menurut Ady, polemik proyek tersebut sempat memicu kemarahan Bupati Kupang Yosep Lede. Meski begitu, ia mengaku belum mengetahui pihak yang nantinya akan melanjutkan pengerjaan irigasi tersebut.
"Kemarin dari Pak Bupati juga bilang ya sudah di lokasi situ, kedepannya tidak usa dikasih lagi begitu. Tapi ada paket baru, siapa yang kerja dan mungkin BUMN yang lain atau masih kami karena ada proses tender pada Juli 2026 ini," pungkas Ady.
Warga dan Kades Pernah Datangi BBWS
Sebelumnya, sejumlah kepala desa bersama Camat Amfoang Utara Hendra Mooy mendatangi Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II pada Rabu (14/1/2026). Mereka meminta agar proyek irigasi di Desa Kolabe segera diselesaikan.
Pertemuan itu dihadiri Kepala Desa Kolabe Isak Obes, Kepala Desa Fatunaus Jhoni Adu, Kepala Desa Afoan Yan Kameo, dan Kepala Desa Bakuin Ferdy Henuk.
"Kami minta kalau bisa segera diselaikan agar petani saya bisa melakukan tanam," ujar Hendra Mooy saat berdialog dengan Kabid Pelaksana Sumber Daya Air (SDA) BBWS NT II Frangky Welkis.
Menanggapi hal itu, BBWS Nusa Tenggara II berencana menyediakan pompa air sebagai solusi sementara untuk memenuhi kebutuhan air di persawahan Oehani.
"Kami berencana untuk menyediakam pompa air sehingga informasi bahwa petani terancam gagal tanam itu segera teratasi," ujar Kepala BBWS NT II, Parlinggoman Simanungkalit, saat jumpa pers di kantornya, Senin (19/1/2026).
(dpw/dpw)