Seorang ibu hamil bernama Berbelina Aikas (29) asal RT 03, Desa Timau, Kecamatan Amfoang Barat Laut, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), dilaporkan melahirkan di atas kapal feri saat dirujuk ke Kota Kupang, NTT. Peristiwa itu terjadi pada Selasa (12/5/2026) malam.
"Dia melahirkan itu sekitar pukul 19.40 Wita saat kapal sudah berlabuh di tengah laut," ujar salah satu petugas medis Puskesmas Soliu, Beatrix Atalanta Nena Mite, kepada detikBali, Rabu (13/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perempuan yang akrab disapa Lanta itu menjelaskan sebelum dirujuk, Berbelina hanya sekali memeriksa kehamilan di Puskesmas Soliu. Yakni, pada Januari 2026 setelah sejumlah petugas medis mencari Berbelina di rumahnya untuk segera memeriksa kandungannya.
Kala itu, Berbelina menuruti dan mau untuk diperiksa di Puskesmas Soliu. Seiring waktu, Berbelina tak lagi memeriksa kondisi kehamilannya hingga prediksi lahirannya sudah dekat.
"Jadi saat kami periksa itu letak bayi dengan posisi miring, kepala condong ke atas, serta bagian kaki dan bokongnya di bagian bawah," tutur perempuan yang berprofesi sebagai bidan itu.
Menurut Lanta, setelah pemeriksaan tersebut, dokter Puskesmas Soliu menyarankan agar Berbelina segera dirujuk ke Kota Kupang. Namun, saat BPJS miliknya dicek ternyata tidak aktif. Petugas medis lantas berupaya mengaktifkan dan kembali aktif pada Selasa pagi.
"Baru aktif pada Selasa pagi. Jadi kalau belum aktif otomatis kami belum bisa buat rujukan. Setelah itu, pasiennya langsung menuju Kupang dengan kapal," kata Lanta.
Ketika itu, Berbelina tak menunjukan tanda-tanda persalinan sehingga dirujuk mandiri. Namun, saat naik kapal, ia mulai merasakan sakit dan kontraksi. Beruntung, sejumlah petugas medis Puskesmas Naikliu, Kecamatan Amfoang Utara, yang melihat hal itu, langsung menghubungi petugas medis Puskesmas Soliu.
Menindaklanjuti informasi itu, Lanta bersama dua temannya, yakni Feri Diana Suni'uf dan Serafina Se'u, langsung menuju ke Pelabuhan Naikliu untuk mengecek dan mengantar Berbelina ke Kupang.
"Saat itu kami hanya berpikir mau bagaimana pun tetap kami antar dan kawal sampai Kupang karena beta (saya) dan Ibu Feri sebagai penanggung di Desa Timau untuk ibu hamil," terang Lanta.
Saat kapal sudah berlabuh, Berbelina mulai menunjukan gejala persalinan. Di tengah keterbatasan peralatan, Lanta dan Feri berupaya dengan alat seadanya untuk membantu proses persalinan hingga Berbelina dan bayi perempuannya selamat.
Bayi tersebut memilik berat badan 3,2 kilogram (kg), panjang 49 sentimeter (cm), lingkar kepala 35 cm, lingkar dada 34 cm dan lingkar perut 33 cm. Menurut Lanta, saat proses persalinan itu, pihaknya mendapat kendala lantaran bokong bayi yang dahulu keluar.
"Kami upayakan dengan alat seadanya. Kami tolong ibu dan bayinya sampai selamat," ungkap Lanta.
Selain itu, Lanta dan Feri juga dibantu oleh sejumlah bidan Puskesmas Naikliu, yang kala itu tengah merujuk salah satu pasien ke Kota Kupang juga. Sehingga proses persalinannya berjalan dengan aman dan lancar. Hingga saat ini, Berbelina bersama bayi masih mendapat perawatan medis di Rumah Sakit Leona Kota Kupang.
"Saat itu kami dibantu oleh Ibu Bikor dari Puskesmas Naikliu, Ibu Leni, kakak bidan Noldi, kakak Bidan Selvi dan kakak bidan Desy Balan. Puji Tuhan, kami tiba juga dengan selamat," pungkas Lanta.
(hsa/iws)










































