detikBali

Kepala BGN Ungkap Anggaran MBG di NTB Capai Rp 824 Miliar/Bulan

Terpopuler Koleksi Pilihan

Kepala BGN Ungkap Anggaran MBG di NTB Capai Rp 824 Miliar/Bulan


Sui Suadnyana, Ahmad Viqi - detikBali

Kepala BGN, Dadan Hindayana, saat Launching Nasional SPPG Modular bekerjasama dengan PT Krakatau Steel di Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, Lombok Utara, NTB, Selasa (12/5/2026). (Foto: Ahmad Viqi/detikBali).
Foto: Kepala BGN, Dadan Hindayana, saat Launching Nasional SPPG Modular bekerjasama dengan PT Krakatau Steel di Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, Lombok Utara, NTB, Selasa (12/5/2026). (Foto: Ahmad Viqi/detikBali).
Mataram -

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengungkapkan jumlah uang yang beredar untuk menopang program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 2026 tembus angka Rp 824 miliar/bulan. Nominal itu diberikan kepada 824 satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG).

"Alhamdulillah sampai sekarang di NTB sudah ada 824 SPPG yang berdiri dan itu artinya uang yang beredar di NTB tembus Rp 824 miliar per bulan," kata Dadan saat Launching Nasional SPPG Modular bekerja sama dengan PT Krakatau Steel di Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, Lombok Utara, NTB, Selasa (12/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dadan mengungkapkan masing-masing SPPG di seluruh daerah, termasuk NTB, akan mengelola dana Rp 1 miliar. Sebanyak 70% dari dana itu digunakan untuk membeli bahan baku. Bahan bakunya sebagian besar adalah produk-produk pertanian dari petani lokal.

"Kami sudah bisa melihat side effect atau apa, pengaruh dari program MBG di berbagai daerah, dengan pertumbuhan ekonomi kita yang sudah mencapai 5,6% dan kontribusi dari program MBG cukup besar," klaim Dadan.

ADVERTISEMENT

Dadan mengatakan total uang negara yang disedot untuk program MBG tembus lebih dari Rp 77 triliun pada 2026. Uang tersebut telah beredar dari seluruh SPPG dari Sabang hingga Merauke.

"Mudah-mudahan kita terus bergandengan tangan untuk menyelenggarakan program dengan kualitas layangan yang makin baik," tegas Dadan.

Keberadaan SPPG di daerah-daerah terpencil, seperti di Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, Lombok Utara, kata Dadan, diharapkan bisa mempekerjakan masyarakat lokal, termasuk ibu-ibu, pemuda, pemudi warga setempat.

Seluruh gaji pegawai SPPG akan dibiayai dari 20% dari uang yang masuk ke SPPG. Bahkan, seluruh pegawai yang direkrut akan memiliki pendapatan antara Rp 2,4 sampai Rp 3,5 juta.

"Nanti tinggal kita lihat bagaimana operasionalisasinya karena yang 10% digunakan untuk membangun dapur," tutur Dadan.

Peluncuran SPPG yang dibangun oleh Krakatau Steel dengan pola modular ini dilaksanakan secara serentak, mulai dari Papua, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sumatera Utara, termasuk di NTB.

"Kami pastikan berjalan dengan baik dan kita sama-sama nanti bisa melakukan operasionalisasi dari SPPG ini dan memberikan manfaat kepada anak-anak kita," tegas Dadan. Setiap anak yang mendapatkan program MBG sejak dalam kandungan sampai usia 18 tahun diharapkan bisa tumbuh cerdas, sehat, kuat, dan ceria.

"Anak-anak yang hari ini lahir, maka 20 tahun lagi menjadi tenaga kerja produktif. Anak-anak yang sekarang duduk di belakang usianya 10-15 tahun, 20 tahun lagi sudah akan menjadi ibu-ibu yang menghasilkan keturunan lebih lanjut," ujar Dadan.

Bagi ibu hamil yang menikmati MBG, diharapkan mereka akan mengasuh anak dengan lebih baik dan menghasilkan keturunan lebih baik. Sehingga generasi bangsa Indonesia bisa melahirkan generasi yang berkualitas.

"Mari kita sama-sama mengawasi program ini. Masakan yang kita hasilkan harus berkualitas, dengan gizi seimbang, dan juga aman dikonsumsi. Sehingga anak bisa tumbuh sehat, cerdas, kuat, dan ceria. Dan paling penting, MBG menumbuhkan ekonomi, meningkatkan kemakmuran di berbagai daerah," ajak Dadan.




(hsa/hsa)










Hide Ads
LIVE