Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), menemukan pangkalan yang menjual gas minyak cair atau liquified petroleum gas (LPG) 3 kilogram (kg) di atas harga eceran tertinggi (HET). Hal itu terungkap pada Rabu (15/4/2026).
Pangkalan itu berada di Desa Puyung, Kecamatan Jonggat. Pemilik pangkalan memanfaatkan kesempatan kelangkaan gas LPG 3 kg untuk menaikkan harga.
"Minggu kemarin di Puyung masih ada pangkalan yang menjual di atas HET," kata Kepala Disperindag Lombok Tengah, Lalu Setiawan, kepada detikBali, Senin (20/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenaikan harga dari pangkalan ini menyebabkan harga tingkat pengecer akan jauh lebih tinggi. Dampaknya, banyak pengecer yang menimbun agar terjadi kelangkaan dan menyebabkan harga kian meroket.
"Ketika pangkalan menjual di atas HET, maka ketika orang menjual lagi pasti naik," ujar Setiawan.
Berdasarkan temuan tersebut, Disperindag Lombok Tengah, langsung membuat surat rekomendasi kepada agen untuk memberikan surat peringatan (SP) kepada pemilik pangkalan. Hal itu dilakukan agar tak ada pangkalan yang membandel.
Di sisi lain, Setiawan mengungkapkan ketersediaan LPG 3 kg sebenarnya cukup normal. Berdasarkan hasil survei di sejumlah stasiun pengisian bulk elpiji (SPBE), distribusi ke agen dilakukan cukup masif.
"Ya sebenarnya LPG tidak langka, kami setelah cek ke SPBE dan agen dropping normal," terang Setiawan.
Setiawan meminta seluruh pangkalan LPG di Lombok Tengah agar tidak melakukan penimbunan demi mendapatkan untung besar. Disperindag Lombok Tengah, tegas Setiawan, tak segan-segan untuk merekomendasikan pencabutan izin bagi pangkalan nakal.
(iws/iws)










































