detikBali
Nusra Sepekan

Insiden Berdarah di SMAN 1 Woha-Bantuan Ji Chang Wook Ungkap Fakta Miris

Terpopuler Koleksi Pilihan
Nusra Sepekan

Insiden Berdarah di SMAN 1 Woha-Bantuan Ji Chang Wook Ungkap Fakta Miris


Tim detikBali - detikBali

Polsek Woha mengamankan situasi SMAN 1 Woha Bima, pasca siswa menusuk temannya menggunakan buusr panah di sekolah, Senin (13/4/2026). (Dok. Polsek Woha)
Foto: Polsek Woha mengamankan situasi SMAN 1 Woha Bima, pasca siswa menusuk temannya menggunakan buusr panah di sekolah, Senin (13/4/2026). (Dok. Polsek Woha)
Mataram -

Ada sederet peristiwa terpopuler di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) selama sepekan terakhir. Di Bima, seorag siswa SMAN 1 Woha, menusuk temannya menggunakan anak panah di sekolah. Insiden itu terjadi saat kegiatan belajar mengajar (KBM) serta korban dan terduga pelaku masih berseragam sekolah.

Kemudian, belasan sekolah dan pemerintah desa (pemdes) di Bima, NTB, diduga menjadi korban penipuan oleh oknum ASN Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Bima. Para korban dijanjikan bus operasional bantuan hibah dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Aksi aktor Korea Selatan, Ji Chang Wook, membantu pembangunan gedung pendidikan anak usia dini (PAUD) di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), viral di media sosial. Aksi Chang Wook justru mengungkap fakta miris di sana.

Nama bekas Gubernur NTB, Zulkieflimansyah, terseret dalam kasus korupsi pembelian lahan seluas 70 hektare untuk sirkuit MXGP Samota, Sumbawa. Namanya muncul dalam dakwaan jaksa terkait janji pembelian lahan seusai ajang internasional tersebut digelar.

ADVERTISEMENT

Berikut rangkuman berita terpopuler selama sepekan dalam rubrik Nusra Sepekan di detikBali.


Siswa di Bima Tusuk Teman Pakai Panah

Siswa SMAN 1 Woha, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), menusuk temannya menggunakan anak panah di sekolah. Insiden itu terjadi saat kegiatan belajar mengajar (KBM) serta korban dan terduga pelaku masih berseragam sekolah.

Kapolsek Woha AKP Muhtar menyebut terduga pelaku berinisial M (16), sementara korbannya inisial MA (16). Keduanya merupakan siswa kelas XI tapi berbeda kelas di SMAN 1 Woha. "Kejadiannya tadi pagi," ucap Muhtar dikonfirmasi detikBali, Senin (13/4/2026).

Muhtar menjelaskan sebelum kejadian, M dan MA berkelahi di pintu keluar Terminal Tente. MA diduga memukul M hingga mengakibatkan luka dan pendarahan di bagian kepala. "Diawali perkelahian," katanya.

Seusai perkelahian, M datang ke sekolah untuk melapor insiden itu ke Guru BP. Hanya saja, M melihat MA sedang duduk di depan ruang guru dan menghampirinya. Karena didatangi M, MA langsung kabur melarikan diri. "M mengejar hingga menusukkan anak panah dari arah belakang yang mengenai punggung MA," katanya.

Aksi itu langsung dilerai oleh siswa lain, sejumlah guru hingga penjaga sekolah. Tak lama setelah itu, para personel Polsek Woha yang mendapat laporan langsung mendatangi sekolah untuk mengamankan situasi.

"MA diamankan dan dibawa ke Mapolres Bima beserta barang bukti anak panah. Sementara M dibawa ke RSUD Bima untuk dirawat medis," ujarnya.

"Hasil interogasi awal, motif kejadian M dan MA mempunyai permasalahan dan dendam," tambah Muhtar.


Belasan Sekolah-Pemdes Ditipu ASN Dishub

Belasan sekolah dan pemdes di Bima, NTB, diduga menjadi korban penipuan oleh oknum ASN Dishub Kabupaten Bima. Para korban dijanjikan bus operasional bantuan hibah dari Kemenhub.

Dua dari belasan korban yang mengalami kerugian puluhan juta rupiah itu yakni SMK dan SMP Taman Madya Baiturrahman Bima. Kedua sekolah tersebut berada di bawah naungan Yayasan Taman Madya Baiturrahman di Desa Sondosia, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima.

"Persoalan ini sudah kami laporkan secara resmi ke polisi," ucap Ketua Yayasan Taman Madya Baiturrahman Bima, Muhammad Daud Akbar kepada detikBali, Senin (13/4/2026).

Daud mengungkapkan kasus ini bermula saat sejumlah orang yang diketahui merupakan ASN Dishub Kabupaten Bima menemuinya pada 10 Juli 2025. Dalam pertemuan itu, mereka menawarkan program hibah bus sekolah dari Kemenhub.

"Saya tertarik menemui mereka dan membahas bus hibah ini karena mereka (ASN) adalah alumni Sekolah Kedinasan Perhubungan," ujarnya.

Para ASN tersebut juga meyakinkan bahwa mereka mendapat perintah dari senior di Kemenhub untuk mencari sekolah dan Pemdes penerima hibah. Namun, ada syarat yang harus dipenuhi, yakni menyerahkan sejumlah uang untuk biaya akomodasi penjemputan bus dari Jakarta.

"Saya serahkan uang Rp 75 juta. Uang ini diakui untuk biaya akomodasi penjemputan mobil dari kantor Kemenhub di Jakarta menuju Mataram," katanya.

Setelah menyerahkan uang puluhan juta rupiah, bus hibah yang dijanjikan tak kunjung terealisasi hingga kini. Sementara itu, ASN Dishub yang sebelumnya menemui dan menerima uang tersebut tidak dapat lagi dihubungi.

"Tidak ada realisasi sampai sekarang. Mereka yang saya kirimin uang juga tidak ada kabarnya," beber Daud.

Selain sekolah di bawah Yayasan Taman Madya Baiturrahman, sejumlah sekolah swasta dan negeri di Kota dan Kabupaten Bima juga mengalami kejadian serupa. Bahkan, beberapa sekolah di Lombok disebut turut menjadi korban dengan total kerugian mencapai ratusan juta rupiah.

"Di Bima ada tujuh sekolah dan tiga Pemdes. Belum lagi di Lombok. Kalau dihitung kerugian mencapai angka Rp 2 miliar," terangnya.

Merasa ditipu, perwakilan sejumlah sekolah telah melaporkan kasus ini ke Polres Bima, Polres Bima Kota, hingga Polda NTB. Mereka berharap aparat kepolisian mengusut tuntas dugaan penipuan tersebut agar tidak ada korban lain.

"Kami desak agar aparat kepolisian mengusut tuntas. Saya meyakini persoalan ini sudah lama berjalan tapi belum tersentuh hukum," tandasnya.


Ji Chang Wook Bantu PAUD di Kupang

Aksi aktor Korea Selatan, Ji Chang Wook, membantu pembangunan gedung pendidikan anak usia dini (PAUD) di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), viral di media sosial. Di balik sorotan itu, terungkap kondisi guru yang selama ini hanya digaji Rp 100 ribu per bulan. Video tersebut ramai beredar sejak Senin (13/4/2026) dan menuai beragam komentar dari netizen.

Dilihat detikBali dari video yang diunggah di sejumlah akun media sosial, Ji Chang Wook menyampaikan telah membantu pembangunan gedung untuk PAUD Cahaya Timur di Desa Naunu, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang.

Bantuan itu merupakan hasil kolaborasi dengan brand makanan ringan melalui program bertajuk One Bite One Dream. Dalam video tersebut, Ji Chang Wook juga menyampaikan harapannya agar bantuan itu dapat bermanfaat bagi para siswa.

"Halo, adik-adik. Apa kabar? Saya aktor Ji Chang Wook. Apakah kalian senang dengan sekolah barunya," kata Ji Chang Wook dalam video yang dilihat detikBali, Selasa (14/4/2026).

Ia berharap gedung baru tersebut bisa membuat para siswa lebih nyaman dalam belajar.

"Semoga di sekolah baru ini, adik-adik bisa belajar dengan lebih nyaman dan semakin semangat. Saya juga berharap suatu saat bisa datang ke Kupang dan bertemu langsung dengan kalian," ujarnya.

Ji Chang Wook menambahkan, meski berada jauh, ia akan terus memberikan semangat kepada anak-anak PAUD Cahaya Timur.

Pengelola PAUD Cahaya Timur, Julio Dos Reis Gonzaga, bersyukur atas bantuan tersebut.

"Saya mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena doa kami akhirnya dikabulkan," ujar Julio.

Julio menjelaskan, sekolah yang dibangun sejak 2015 itu kini memiliki 37 murid dan telah meluluskan sedikitnya 80 murid.

"Saya bangun sejak Tahun 2015. Murid sekarang ada 37 orang, tapi ada kelas filial di kampung sebelah karena di sana tidak ada lembaga PAUD, makanya gabung di sini. Dari tahun 2015 sampai tahun 2025 sudah diluluskan 80 murid," jelas Julio melalui sambungan telepon.

Ia mengaku tidak menyangka PAUD yang dikelolanya mendapat perhatian dari Ji Chang Wook.

"Kami juga tidak sangka-sangka kalau PAUD kami dibantu oleh artis Korea, karena yang datang waktu itu mungkin orang tuanya, dan kami dapat donator dari Happy TOS awalnya, kami juga difasilitasi oleh Salah Satu LSM Happy hearts Indonesia sehingga mendapatkan bantuan ini," jelas Julio.

Julio menuturkan, awalnya sekolah tersebut hanya memiliki dua guru. Kini, setelah adanya kelas filial, jumlah guru menjadi tiga orang.

"Awalnya guru dua orang, karena kami lagi ada kelas filial jadi sekarang ada tiga orang kalau, lihat struktur sekolah kami ada enam orang guru ditambah dengan ketua komite," tukas Julio.

Ia juga mengungkapkan sejak awal berdiri, para guru tidak menerima gaji tetap dan hanya mengandalkan swadaya orang tua murid.

"Sejak awal kami tidak dibayar, dan anak-anak juga tidak bayar uang sekolah. Tapi kami hanya dapat swadaya dari orang tua murid saja," katanya.

Saat ini, sekolah mulai menerima dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), meski jumlah gaji guru masih bergantung pada jumlah siswa.

"Ya, kita terima gaji dari dana BOS. Besarannya tidak menentu. Soalnya tergantung dari murid. Kalau murid banyak kami digaji dengan Rp 250 ribu, kalau murid sedikit berarti hanya Rp 100 ribu saja per-bulan. Itu pun kadang 6 bulan baru bayar jadi satu tahun, dua kali bayar," urai dia.

Julio juga menyebut hingga kini belum ada bantuan dari pemerintah daerah. "Belum ada bantuan," tambahnya.

Ia berharap semakin banyak lembaga pendidikan di daerah terpencil yang mendapat bantuan serupa, baik untuk PAUD maupun sekolah dasar yang masih kekurangan fasilitas.


Nama Eks Gubernur di Kasus Lahan MXGP Samota

Nama bekas Gubernur NTB, Zulkieflimansyah, terseret dalam kasus korupsi pembelian lahan seluas 70 hektare untuk sirkuit MXGP Samota, Sumbawa. Namanya muncul dalam dakwaan jaksa terkait janji pembelian lahan seusai ajang internasional tersebut digelar.

Nama Zulkieflimansyah disebut dalam dakwaan terdakwa mantan Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Lombok Tengah, Subhan, serta Pung Saifullah Zulkarnaen dan Muhammad Jan, yang dibacakan jaksa penuntut, Rabu (15/4/2026).

Dalam dakwaan, Zulkieflimansyah disebut pernah menemui mantan Bupati Lombok Timur Ali Bin Dachlan pada awal 2022, sebelum Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumbawa membeli lahan tersebut.

"Pada sekitar awal tahun 2022, Gubernur NTB saat itu Zulkieflimansyah menemui saksi Moch Ali Bin Dachlan untuk keperluan meminjam tanahnya yang berlokasi di kawasan Samota, Sumbawa," kata Hasan Basri, perwakilan jaksa penuntut, membacakan dakwaan di ruang sidang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Mataram.

Pertemuan itu terjadi setelah NTB dipercaya menjadi salah satu lokasi penyelenggaraan MXGP 2022. Dalam pertemuan tersebut, Ali Bin Dachlan mengizinkan lahannya dipinjam secara gratis untuk pelaksanaan ajang tersebut.

"Gubernur NTB saat itu menjanjikan bahwa pemerintah akan membeli lahan tersebut setelah penyelenggaraan MXGP tahun 2022 selesai diselenggarakan," sebutnya.

MXGP Samota digelar pada 24-26 Juni 2022 dan dinilai berdampak positif terhadap sektor ekonomi. Setelah ajang selesai, Pemkab Sumbawa kemudian berencana membeli lahan milik Ali Bin Dachlan.

"Melalui Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Kabupaten Sumbawa berencana untuk membeli lahan tersebut melalui proses pengadaan tanah untuk pembangunan kepentingan umum," ungkapnya.

Mahmud Abdullah yang saat itu menjabat Bupati Sumbawa kemudian membentuk tim penyusun dokumen studi kelayakan pengadaan tanah. Tim tersebut diberi nama pengadaan tanah untuk pembangunan prasarana dan sarana olahraga pemerintah daerah di kawasan Samota Sumbawa 2022.

Tim ini bertugas mengkaji kelayakan lokasi pengadaan tanah, mencakup survei sosial ekonomi, analisis biaya dan manfaat pembangunan, perkiraan nilai tanah, hingga dampak lingkungan dan sosial yang mungkin timbul.

"Bahwa calon lokasi pengadaan tanah dimaksud adalah lahan milik saksi Moch Ali Bin Dachlan yang sebelumnya dipinjam untuk penyelenggaraan MXGP Samota Sumbawa," katanya.

Pemkab Sumbawa kemudian membeli lahan seluas 70 hektare tersebut dari Ali Bin Dachlan dengan nilai Rp 52 miliar.

Dalam proses penyidikan, ditemukan kerugian negara sebesar Rp 6,7 miliar dalam pembelian lahan tersebut. Kerugian negara itu telah dikembalikan ke Kejati NTB oleh Ali BD selaku penerima pembayaran.

Saat proses pengadaan berlangsung, Subhan menjabat sebagai Kepala BPN Sumbawa dan berperan sebagai ketua pelaksana pengadaan lahan. Sementara Pung Saifullah Zulkarnaen dan Muhammad Jan bertindak sebagai tim penilai atau appraisal dari Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP).




(hsa/hsa)











Hide Ads