Nasib pilu dialami tiga kakak beradik di Dusun Radu, Desa Bala, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, (NTB). Ketiganya hidup dengan kondisi yang cukup memprihatinkan dan terlunta-lunta tanpa kedua orangtua.
Tiga kakak beradik itu masing-masing bernama Muhammad Ali Farizi (9), M. Al Fajrin (6), dan Faujan (3). Saat ini, mereka diasuh dan tinggal bersama dengan neneknya yang tua renta di gubuk reyot.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sudah lama mereka tinggal bersama neneknya," kata Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Wera, Jokomalis, kepada detikBali, Jumat (17/4/2026).
Jokomalis menyebut ketiganya diasuh dan tinggal bersama neneknya lantaran kedua orang tua mereka tak ada kabar dan menghilang setelah berpisah (cerai). Perceraian terjadi sejak anak bungsu masih dalam kandungan.
"Ibu dan bapak mereka tak diketahui keberadaannya setelah resmi bercerai. Makanya mereka diasuh oleh neneknya," katanya.
Kondisi tempat tinggal mereka pun jauh dari kata layak. Rumah panggung sembilan tiang yang ditempati terlihat lapuk dan nyaris roboh. Rumah tersebut juga dihuni oleh bibi mereka bersama suaminya.
Untuk kebutuhan harian, mereka bergantung pada penghasilan neneknya yang bekerja sebagai kuli atau buruh tani. Sementara untuk makan, mereka mengandalkan program makan bergizi gratis (MBG) dari sekolah.
Anak pertama tercatat sebagai siswa kelas 2 SD, anak kedua masih TK, dan si bungsu mengikuti PAUD. Pada pagi hari mereka makan menu MBG yang dibagikan di sekolah. Untuk siang atau sore hari, mereka makan menu MBG yang dibagikan untuk neneknya yang lansia.
"Kalau libur penyaluran program MBG mereka makan seadanya saja," terang Jokomalis.
Tak Tersentuh Bansos
Ironisnya, hingga kini ketiga anak tersebut bersama neneknya belum pernah menerima bantuan sosial dari pemerintah, termasuk bantuan perbaikan rumah.
"Belum tersentuh bantuan. Termasuk bansos. Yang mereka dapatkan hanya MBG saja," katanya.
Berdasarkan hasil penelusuran, mereka belum tersentuh bantuan pemerintah lantaran kendala administrasi kependudukan (adminduk). Identitas mereka juga tak terdata bahkan berbeda dalam kartu keluarga (KK).
"Kendala adminduk. Tak terdata dalam KK dan ada juga yang berbeda KK," jelasnya.
Jokomalis mengaku telah berkoordinasi dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Bima untuk memperbaiki data administrasi mereka. Ia juga meminta pemerintah desa setempat untuk segera mengajukan bantuan darurat melalui Dinas Sosial.
"Saya juga telah meminta Pemdes Bala agar menyurati Dinsos untuk menyalurkan bantuan tanggap darurat untuk tiga anak yang tinggal bersama neneknya ini," pungkas Jokomalis.