Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjanjikan sejumlah hal untuk warga di Nusa Tenggara Timur (NTT). Termasuk akan memperhatikan nasib guru honorer dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) hingga bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan).
Beragam janji itu diungkapkan Gibran saat mengunjungi Kupang, NTT, pada Senin (6/4/2026). Kunjungan tersebut dalam rangka menghadiri Festival Pawai Paskah di Kota Kupang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perhatikan Nasib Guru Honorer dan PPPK
Selain menghadiri Festival Pawai Paskah, Gibran juga sempat mengunjungi SD Inpres Kaniti, Desa Penfui Timur, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, NTT. Dalam kesempatan itu, ia berjanji akan memperhatikan nasib guru honorer dan PPPK di sekolah tersebut.
"Tadi beliau pesan akan ada perhatian terhadap guru honorer dan PPPK," ujar Kepala SD Inpres Kaniti Yuliana Nenabu seusai kunjungan Gibran, Senin.
Yuliana menjelaskan di sekolahnya terdapat 10 guru PPPK dan 9 guru honorer. Sedangkan, jumlah siswa sebanyak 420 orang.
"Kami berharap nasib mereka diperhatikan secara serius agar bisa mengajar dengan baik karena jumlah siswa di sekolah ini banyak," terang Yuliana.
Menurutnya, Gibran sudah kedua kalinya mengunjungi SD Inpres Kaniti. SD Inpres Kaniti merupakan salah satu sekolah yang menjadi perhatian Gibran saat kunjungan perdananya pada 2025.
Yuliana menjelaskan kunjungan putra Joko Widodo (Jokowi) itu untuk mengecek renovasi 11 ruangan kelas, pembangunan tiga ruangan baru beserta perlengkapannya. Kemudian ruang administrasi, mes guru, dan toilet masing-masing satu unit.
"Selain itu, Pak Wapres Gibran juga menyumbang 15 Chromebook untuk sekolah kami," kata Yuliana.
Janjikan Bantuan Mesin Pertanian
Gibran juga menjanjikan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk petani di Kupang. Janji tersebut disampaikan kala berkunjung ke Agroeduwista GMIT Tarus, Kabupaten Kupang, Senin. Gibran menilai pentingnya modernisasi alat pertanian untuk mencegah kerugian pascapanen.
"Kita tidak ingin hasil panen yang sudah melimpah itu terbuang karena alat-alatnya belum modern. Jadi, kita nggak mau ini teman-teman dari kelompok tani, teman-teman milenial sudah bekerja keras pagi siang malam tapi hasil panennya malah rusak atau terbuang karena masih menggunakan alat-alat manual," ujar Gibran.
"Akan kita bantu dengan alat-alat yang lebih modern untuk peningkatan produksi panen dan juga lebih memudahkan teman-teman ini bekerja," tambahnya.
Gibran mengingatkan pentingnya menjaga konsistensi pengelolaan kawasan agroeduwisata tersebut, terutama dalam mendukung rantai pasok pangan. Dia juga mengapresiasi pengelolaan kawasan agroeduwisata yang dinilai mampu melibatkan generasi muda dalam sektor pertanian.
"Yang paling saya senang di sini melibatkan anak-anak muda," imbuh bekas wali kota Solo itu.
Menurut Gibran, sektor pertanian menjadi salah satu fokus utama Presiden Prabowo Subianto. Termasuk mengenai swasembada pangan dan swasembada energi.
"Pak Presiden pesan, produksi pertanian benar-benar harus digenjot. Kita tetap fokus untuk menyukseskan program dan visi misi dari Bapak Presiden Prabowo," kata Gibran.
Untuk diketahui, Taman Agroeduwisata ini dikelola oleh kelompok tani binaan Sinode GMIT bekerja sama dengan Politeknik Pertanian Negeri Kupang. Kawasan ini mengembangkan konsep pertanian terintegrasi berbasis agroeduwisata, yang memadukan sektor pertanian, hortikultura, perikanan, hingga peternakan dalam satu ekosistem.
Ketua Sinode Minta Gibran Berpihak pada NTT
Sementara itu, Ketua Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Pendeta Semuel Pandie juga sempat mencurahkan berbagai persoalan di NTT kepada Gibran. Termasuk penanganan stunting, kemiskinan ekstrem, nasib buruh migran, dan hingga PPPK.
"Kami mohon Mas Gibran berpihaklah kepada NTT, pusat stunting, kemiskinan ekstrem, persoalan buruh migran ada di sini, ada kekerasan perempuan dan anak di sini, serta kenaikan angka HIV/AIDS yang menakutkan ada di sini," ujar Semuel, Senin.
Ia juga meminta perhatian serius terhadap NTT sebagai daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar. Semuel pun menyinggung nasib PPPK yang terancam dirumahkan.
"Kami mohon berpihaklah pada NTT, terutama juga sebagai salah satu wilayah 3T yang membutuhkan perhatian lebih adil dan jangan lupakan juga nasib PPPK yang mendambakan masa depan yang lebih cerah. Sebab Paskah yang sejati adalah keberpihakan kepada mereka yang kecil, rapuh dan yang sedang berjuang," terangnya.
Saat menghadiri Festival Pawai Paskah di Kota Kupang, Gibran turut memikul salib bersama Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena serta sejumlah pemuda-pemudi setempat. Mengenakan kemeja lengan panjang biru muda dan celana hitam, Gibran menyempatkan diri untuk berswafoto dengan warga.
Gibran juga diberikan selendang oleh Ketua Sinode GMIT, Semuel Pandie, dan topi rajutan dari kelompok disabilitas. Dalam kesempatan tersebut, Gibran dipercayakan untuk melepas para peserta pawai Paskah Sinode GMIT, di Kupang.
(iws/iws)










































