Sebanyak 21 paus pilot yang mati terdampar akibat terjebak pukat nelayan di Pantai Mbadokai, Desa Fuafuni, Kecamatan Rote Barat Daya, Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), dinekropsi. Nekropsi dilakukan untuk keperluan pencatatan, kajian ilmiah, dan analisis lebih lanjut guna mengungkap penyebab pasti kematian.
Kepala Balai Pengelolaan Kelautan (PK) Kupang, Imam Fauzi, mengungkapkan hasil identifikasi menunjukkan mamalia laut tersebut merupakan paus pilot sirip pendek (short-finned pilot whale/ globicephala macrorhynchus). Satwa ini termasuk dalam biota laut dilindungi.
"Pengukuran sementara menunjukkan panjang individu terbesar mencapai 5,1 meter dengan jenis kelamin jantan, sementara individu terkecil berukuran sekitar 2,4 meter," ungkap Imam kepada detikBali, Rabu (11/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, puluhan mamalia laut itu, sudah dikubur untuk mencegah adanya dampak lingkungan berupa bau busuk. Petugas dalam prosesi penguburan juga mengimbau masyarakat agar tidak mengambil ataupun mengonsumsi bagian tubuh paus karena mamalia laut tersebut merupakan satwa yang dilindungi.
"Upaya tersebut dilakukan secara cepat melalui kolaborasi aparat, organisasi konservasi, pemerintah daerah, dan masyarakat setempat setelah puluhan mamalia laut tersebut dilaporkan terdampar pada 9-10 Maret 2026," terang Imam.
Imam menuturkan total sebanyak 55 paus pilot yang muncul di Pantai Mbadokai diduga karena kondisi laut yang dangkal. Kemunculan paus secara massal hingga terjebak jaring nelayan itu merupakan fenomena yang dapat dipengaruhi berbagai faktor, seperti ikatan sosial kuat antar individu paus, gangguan sistem navigasi akibat kebisingan di laut, kondisi pantai yang dangkal serta faktor kesehatan dan lingkungan.
"Penyebab pasti kejadian ini masih memerlukan kajian lebih lanjut melalui analisis ilmiah yang komprehensif," ujar Imam
Balai PK Kupang Wilayah Kerja Rote Ndao awalnya menerima laporan dari Pangkalan TNI Pulau Rote terkait kemunculan sekelompok paus pilot di Pantai Batutua, Senin (9/3/2026) sekitar pukul 17.15 Wita. Tak berselang lama, personel Lanal bersama Polsek Rote Barat Daya segera melakukan upaya penggiringan paus kembali ke laut menggunakan kapal.
Namun, sebagian kawanan paus kembali muncul di Pantai Mbadokai sekitar 21.30 Wita Aparat TNI dan polisi bersama masyarakat kemudian berupaya menggiring segerombolan paus itu menuju perairan yang lebih dalam untuk menyelamatkan individu yang masih hidup.
Petugas Balai PK Kupang Wilker Rote Ndao bersama organisasi konservasi Thrive Conservation dan Blue Forest tiba di lokasi untuk melakukan penanganan lanjutan pada Selasa (10/3/2026). Petugas gabungan kemudian mengevakuasi dan pelepasliaran terhadap paus yang masih hidup.
"Dari total sekitar 55 ekor paus pilot yang ditemukan, sebanyak 34 ekor berhasil digiring kembali ke laut. Sedangkan 21 ekor yang terdiri dari 8 jantan dan 13 betina, lainnya ditemukan dalam kondisi mati. 21 ekor yang mati juga terdiri dari 4 anakan dan 17 dewasa," jelas Imam.
(dpw/dpw)










































