Pembatasan ritasi sampah ke TPA Regional Kebon Kongok membuat Kota Mataram berada di ambang krisis sampah. Untuk menghindari penumpukan di tempat pembuangan sementara (TPS), pemerintah daerah sepakat memperluas TPA Kebon Kongok di Lombok Barat sebagai solusi jangka pendek.
Wali Kota Mataram Mohan Roliskana mengatakan penanganan darurat sampah di Kota Mataram telah dibahas bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Barat dan Pemerintah Provinsi NTB. Pembahasan itu melibatkan Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal dan Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini.
"Tadi sudah dibahas ada jalan keluar tadi berkaitan dengan sampah ini. Ini tahapan jangka pendek dan jangka panjang sudah dibahas," ujar Mohan ditemui di Kantor Gubernur NTB, Rabu (21/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mohan menjelaskan pembatasan pembuangan sampah ke TPA Kebon Kongok berdampak langsung pada menumpuknya sampah di sejumlah TPS di Kota Mataram. Kondisi itu terjadi karena keterlambatan pengangkutan akibat kuota pembuangan yang dibatasi.
"Sekarang kondisinya kan pembuangan dibatasi. Pembuangan dibatasi kan berdampak dari tempat pembuangan sementara di Kebon Kongok. Itu menimbulkan keterlambatan pengangkutan. Nah solusi jangka pendek akan asa perluasan di TPA Kebon Kongok," ujarnya.
Ia menyebut perluasan TPA seluas 4 are diharapkan bisa mengamankan kondisi pengelolaan sampah Kota Mataram dalam waktu dekat.
"Satu bulan ke depan kita aman. Setelah perluasan ini pengangkutan itu kembali normal. Perluasannya 4 are," katanya.
Saat ini, kata Mohan, pembuangan sampah Kota Mataram ke TPA Kebon Kongok dibatasi hanya 70 ton per hari dari jatah sebelumnya 300 ton. Sisa sampah akan diupayakan diolah melalui tiga tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) di Mataram.
Mohan juga menyampaikan Pemkot Mataram tengah menyiapkan skema pemilahan sampah organik dan anorganik untuk menekan produksi sampah yang mencapai 400 ton per hari.
"Tadi juga dibahas, kalau konsep ini membutuhkan waktu. Karena ini menyangkut pembiasaan soal pemilihan di rumah. Tapi itu kan, tetap kita ikhtiarkan supaya pengelolaan sampah ini menjadi budaya yang bisa tumbuh di masyarakat," ujarnya.
Selain itu, penerapan teknologi waste to energy (WTE) juga mulai dibahas sebagai solusi jangka panjang agar pengelolaan sampah tidak bergantung pada landfill.
"Nah tadi dibahas juga soal penerapan waste to energi. Kalau ini bisa diterapkan bisa terurai dengan cepat biar tidak bergantung dengan landfil di TPA Kebon Kongok," ucapnya.
Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini mengatakan persoalan sampah di Kota Mataram turut berdampak pada Lombok Barat. Karena itu, pihaknya mendorong perbaikan dan perluasan TPA Kebon Kongok.
"Kita akan segera tangani dan akan ada perbaikan di Kebon Kongok supaya bisa normal kembali," katanya.
LAZ, sapaan akrabnya, menyebut perluasan landfill telah disepakati dengan skema pembiayaan bersama antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota.
"Kami mengikuti saja kan ini regional. Ada kesepakatan dari sisi biaya bahwa 40 persen dari Provinsi, 40 Kota Mataram dan 20 Lombok Barat," ujarnya.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menegaskan penanganan sampah di TPA Kebon Kongok akan ditempuh melalui dua langkah, yakni perluasan landfill sebagai solusi jangka pendek dan penerapan teknologi WTE untuk jangka panjang.
"Untuk jangka pendek, kita tidak punya pilihan selain memperluas landfill. Ini harus segera dikerjakan agar tidak terjadi krisis sampah berulang," tegasnya.
Iqbal menyebut anggaran perluasan TPA Regional Kebon Kongok mencapai Rp 4,2 miliar dan ditargetkan mampu menambah daya tampung hingga sekitar dua tahun ke depan.
"Target kita jelas, penyelesaian jangka pendek harus tuntas tahun ini, sehingga tidak perlu lagi menetapkan status darurat sampah ke depan," pungkasnya.
(dpw/dpw)










































