detikBali

TPS Lawata Ditutup Sementara, Warga Mataram Bingung Buang Sampah

Terpopuler Koleksi Pilihan

TPS Lawata Ditutup Sementara, Warga Mataram Bingung Buang Sampah


Nathea Citra - detikBali

Suasana TPS Lawata di Jalan Soromandi, Gomong, Selaparang, Mataram, yang saat ini dalam kondisi overload, Senin (19/1/2026).
Suasana TPS Lawata di Jalan Soromandi, Gomong, Selaparang, Mataram, yang saat ini dalam kondisi overload, Senin (19/1/2026). (Foto: Nathea Citra/detikBali)
Mataram -

Penutupan sementara Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Lawata di Kelurahan Gomong, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram, membuat warga kebingungan membuang sampah rumah tangga. TPS tersebut ditutup karena kondisinya sudah overload.

"Bingung kita mau buang di mana. Tadi saya mau buang ke dalam TPS, dilarang operator. Katanya nggak boleh buang sampah lagi," kata Mardiah, warga Gomong Lama, saat ditemui di TPS Lawata, Senin (19/1/2026).

Ia mengaku sempat diarahkan membuang sampah ke TPS Bintaro. Namun jarak yang jauh membuatnya keberatan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tadi operatornya mengarahkan saya untuk buang ke TPS Bintaro, tapi jauh sekali TPS itu. Lokasinya dekat Senggigi, Lombok Barat. Kecuali rumah saya di Ampenan, tidak apa-apa kalau saya buang sampah ke Bintaro, tapi rumah saya kan di Gomong, jadi jauh banget," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Mardiah berharap TPS Lawata tetap bisa beroperasi meski diakuinya keberadaan TPS kerap menimbulkan dilema bagi warga sekitar.

"Jujur, penutupan ini mengganggu buat kami warga disekitar TPS, karena sekarang kami kebingungan mau taruh sampah rumah tangga kita dimana. Serba salah sebenarnya, kalau ada TPS disini, warga sekitar terganggu karena posisinya dekat rumah warga (ditambah lagi dekat) sekolah-sekolah," tuturnya.

Keluhan juga disampaikan Ahmad, warga Mataram. Ia menyebut aroma sampah di TPS Lawata semakin menyengat sejak adanya pembatasan ritase di TPS Kebon Kongok, Lombok Barat.

"Kalau biasa melintas di Gomong ini, pasti sekelebat aromanya menusuk hidung. Tapi sejak pembatasan ritase hingga sekarang, aromanya makin parah, seperti sampah yang sudah membusuk," katanya.

Ahmad mengaku mendukung rencana Pemerintah Kota Mataram menutup TPS Lawata secara sementara hingga permanen.

"Setuju banget, soalnya TPS Lawata ini posisinya nggak pas banget. Posisi TPS nya di depan sekolah kejuruan, SMKN 2 Mataram, dan posisinya juga dekat dengan permukiman warga, kampus, dan usaha kuliner. Jadi kalau semisal ditutup, kami setuju," ungkapnya.

TPST Kebon Talo Disiapkan

Pemerhati lingkungan sekaligus akademisi Universitas Mataram, Muhamad Irwan, menilai TPS Lawata memang perlu segera direlokasi karena lokasinya berada di pusat kota dan dekat dengan fasilitas pendidikan serta aktivitas ekonomi.

"Kondisinya memang sangat mengkhawatirkan, apalagi lokasi TPS ini ada di pusat kota. Di sekitar TPS ini ada satuan pendidikan, SMP, SMA sampai universitas. Belum lagi di dekat TPS ada aktivitas ekonomi warga. (Dengan kondisi TPS Lawata yang saat ini overload) saya rasa akan sangat mengganggu warga sekitar (apalagi aromanya sangat menyengat)," ujarnya.

Sementara itu, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kebon Talo di Kecamatan Ampenan diperkirakan rampung pada 2026. Fasilitas ini disiapkan untuk mengatasi persoalan sampah di Kota Mataram.

"Informasinya sedangan penyusunan DED, dari balai yang membuat DED-nya. Terus kemudian di follow up oleh pusat. Nanti pusat yang tender," kata Kepala DLH Kota Mataram, Nizar Denny Cahyadi.

TPST Kebon Talo diperkirakan menelan anggaran sekitar Rp 97 miliar untuk pembangunan fisik dan ditargetkan mampu menampung 100-120 ton sampah per hari.




(dpw/dpw)










Hide Ads