Terkuak! Istri Bandar di Mataram Berperan Jadi Marketing Sabu

Ahmad Viqi - detikBali
Jumat, 30 Sep 2022 12:47 WIB
Ilustrasi narkoba, sabu putau ganja
Ilustrasi sabu - Istri bandar sabu di Mataram disebut berperan sebagai marketing penjualan sabu suaminya. (Foto: Ilustrasi: Mindra Purnomo/detikcom)
Mataram -

Kepala Satuan Reserse Narkoba Polresta Mataram Kompol I Made Yogi Purusa Utama mengungkap peran (S) yang dibekuk pada Kamis (29/9/2022) siang. Istri dari bandar sabu inisial IS (43) itu disebut berperan sebagai marketing penjualan sabu.

"Bandar (IS) ini kan agak sedikit licin. Bahkan dia tidak timbul dipermukaan. Jadi peran S adalah support penjualan saat suaminya cash on delivery (COD)," kata Yogi, Jumat (30/9/2022).

Menurut Yogi, suami IS kerap memesan narkotika dari luar NTB hingga setengah kilogram. Sabu yang telah dipesan itu kemudian diedarkan dalam bentuk pocket minimal seberat 10 gram.


"Mainnya ini di atas 10 gram. Bahkan bisa datangkan barang 500 gram dari luar. Jadi memang IS ini adalah salah satu bandar yang menyuplai sabu di Kota Mataram," kata Yogi.

Menurut Yogi, IS dan S mengeluarkan modal Rp 1 juta untuk membeli sabu. Mereka kemudian menjualnya lagi dengan harga Rp 1,3 juta per gram sabu dan mendapat untung Rp 300 ribu per gram sabu.

"Memang istrinya ini berperan sebagai marketing barang sabu. Jadi kalau ada yang ambil barang kemudian barang tidak laku, dikembalikan lagi ke S," kata Yogi.

Saat ini pihak kepolisian masih mendalami kemungkinan IS dan S masuk ke ranah penerapan pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) bandar narkotika. "Kita akan dalami dulu. Karena jelas TPPU diatur dalam pasal pasal 114 undang-undang nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika," kata Yogi.

Diberitakan sebelumnya, bandar sabu kelas kakap inisial IS (43) dibekuk saat nyabu bersama sang istri inisial S (45) di kediamannya. Tak hanya itu, dua orang sepupunya LIH (47) dan LHP (52) juga turut ditangkap polisi.

IS diketahui merupakan seorang residivis narkoba yang sudah keluar masuk penjara sebanyak dua kali di wilayah hukum Polresta Mataram. Kasus pertama, IS divonis 5 tahun penjara pada 2010 lalu dan menjalani hukuman 3,5 tahun. Tak kapok, ia kembali dibekuk pada 2018 dan menjalani hukuman selama 4 tahun penjara dengan kasus serupa.

"Dia ini padahal masih status bebas bersyarat setelah keluar dari penjara Januari 2022 lalu. Sekarang ini yang ketiga kalinya kita tangkap," kata Kapolresta Mataram Kombes Pol Mustofa saat konferensi pers Jumat siang (30/9/2022).



Simak Video "Dugaan Pungli di Pasar Mataram, Kantor Disdag Digeledah Polisi"
[Gambas:Video 20detik]
(iws/irb)