Masih Diperiksa, 23 PMI Ilegal NTB Belum Dipulangkan dari Batam

Ahmad Viqi - detikBali
Rabu, 06 Jul 2022 18:59 WIB
Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) NTB, Abri Danar Prabawa, ditemui detikBali di kantornya, Mataram, NTB, Rabu (6/7/2022).
Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) NTB, Abri Danar Prabawa, ditemui detikBali di kantornya, Mataram, NTB, Rabu (6/7/2022). Foto: Ahmad Viqi/detikBali
Mataram -

23 Pekerja Migran Indonesia (PMI) ilegal korban kapal tenggelam di Batam, Provinsi Kepulauan Riau, masih tertahan dan belum bisa dipulangkan ke Nusa Tenggara Barat (NTB). Hal ini dikarenakan mereka masih menjalani pemeriksaan.

Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) NTB, Abri Danar Prabawa mengatakan, proses pemulangan PMI ilegal asal NTB belum bisa dilakukan. Korban mengalami kecelakaan kapal pada Kamis (16/6/2022) malam sekitar pukul 19.30 WIB, dalam perjalanan menuju Malaysia.

"Kenapa belum bisa dipulangkan? Karena pemerintah masih memerlukan keterangan lanjut terkait pemeriksaan 23 PMI ini. Yang jelas korban selamat masih ditampung di rumah singgah BP2MI di Batam," kata Abri, Rabu (6/7/2022), di Mataram.


Menurutnya, pihak yang bertanggung jawab atas insiden kapal tenggelam di Batam, adalah semua pemerintah terkait. Semua pihak baik pemerintah pusat, provinsi, daerah, hingga pemerintah desa, akan membantu kepulangan 23 PMI ilegal pasca ditemukan selamat di perairan Pulau PutriBatam.

"Ini bukan hanya tugas pemerintah pusat ya. Tapi pemulangan ini juga tugas sampai pemerintah daerah sesuai asal 23 korban PMI tersebut. Mereka ini kan nekat, kalau ada apa-apa siapa yang harus ditindaklanjuti? Ya jelas pemerintah. Mulai dari Basarnas TNI-Polri, Polaroid BP2MI, Kementerian Sosial, Kemenaker, Kemenlu, Pemerintah Provinsi dan Kabupaten, hingga Pemerintah Desa," pungkas Abri," terangnya.

Menurut Abri, proses pemeriksaan para korban masih terus berlangsung. Pihaknya tidak melihat proses pemulangan lama atau tidak. Pasalnya, kepolisian di Batam perlu menelusuri siapa yang memberangkatkan PMI ilegal tersebut. "Negara dalam hal ini kepolisian Kepri akan menindaklanjuti siapa yang memberangkatkan. Kami juga belum dapat info terkait siapa calonya," ujar Abri.

Abri juga belum bisa memastikan kabar yang beredar bahwa salah satu korban yang belum ditemukan merupakan calo yang memberangkatkan PMI ilegal ini. "Kami belum bisa pastikan. Mungkin bisa saja ya atau bisa saja tidak. Kabar itu kan harus ada yang membenarkan. Kalau kami belum bisa benarkan, karena belum dapat datanya," lanjutnya.

Khusus korban meninggal yang ditemukan di perairan Singapura atas nama Lalu Ahmat Sapii alias Mat (38) asal Desa Tumpak Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, NTB, pihaknya juga belum bisa melakukan pemulangan. Pasalnya, jenazah masih melakukan pencocokan identitas. Pemeriksaan ini tetap dilakukan meskipun jenazah Lalu Ahmat Sapil ditemukan bersama kartu keluarga, KTP, dan SIM-nya.

"Kami masih koordinasi dengan Pemda dan Provinsi NTB, bagaimana akan memfasilitasi kepulangan korban. Karena kami di BP2MI juga punya keterbatasan anggaran. Semua harus memfasilitasi korban. (Korban meninggal) masih dilakukan cek DNA. Itu bukan kami yang lakukan, jadi penanganan tidak semua di BP2MI," ujar Abri.



Simak Video "Atraksi Berbahaya di Pantai Senggigi, Lombok"
[Gambas:Video 20detik]
(irb/irb)