Kekerasan Seksual di Kampus

Modus Sama, Rumah Pelaku di Mataram Diduga Didatangi Mahasiswi Lain

Ahmad Viqi - detikBali
Rabu, 06 Jul 2022 02:35 WIB
Direktur Biro Konsultan Bantuan Hukum (BKHB) Fakultas Hukum Universitas Mataram (Unram) Joko Jumadi ditemui di Mataram, NTB, Selasa (5/7/2022).
Direktur Biro Konsultan Bantuan Hukum (BKHB) Fakultas Hukum Universitas Mataram (Unram) Joko Jumadi ditemui di Mataram, NTB, Selasa (5/7/2022). Foto: Ahmad Viqi/detikBali
Mataram -

Rumah pelaku kekerasan seksual di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), kembali didatangi orang baru yang diduga mahasiswi untuk konsultasi skripsi. Mahasiswi lain ini datang ke rumah pelaku pasca tujuh korban kekerasan meninggalkan rumah pelaku pada tanggal 10 Maret 2022 lalu.

"Setelah kami bertujuh pergi dari rumah pelaku, ada orang baru (diduga mahasiswi, red) datang ke rumah pelaku," kata salah satu korban kekerasan seksual di Kota Mataram, G, Selasa (5/7/2022).

Menurut korban G, para mahasiswi itu datang ke rumah pelaku diduga dengan tujuan yang sama untuk melakukan konsultasi mengerjakan skripsi. "Karena dari hasil komunikasi dengan pelaku, rupanya dia memblokir nomor semua korban yang sempat tinggal di rumahnya. Saya awalnya berkontak dengan pelaku via WhatsApp, tapi nomor saya sudah diblokir oleh pelaku," katanya.


Korban G menduga pelaku mengetahui para korban melapor ke Polda NTB. Pasalnya, sejak pelaporan ke Polda NTB tanggal 29 Juni 2022 lalu, pelaku rupanya tidak lagi meminta kepada para korban untuk berkunjung ke kediaman pelaku.

"Banyak korban dari teman-teman saya itu tidak kooperatif saat ditanya apa yang dilakukan pelaku. Hanya dua orang saja yang berani speak up. Intinya para korban mau dapat keadilan. Saya capek lihat mereka, teman saya rusak mentalnya," katanya.

Ia pun meminta Polda NTB segera memeriksa pelaku yang belakangan diketahui sebagai dosen gadungan bergelar SH, MH tersebut. "Hanya itu yang kami minta, keadilan. Saya takut kalau ada korban lain yang bernasib sama dengan kami," kata korban.

Terpisah, Direktur Biro Konsultan Bantuan Hukum (BKHB) Fakultas Hukum Universitas Mataram (Unram) Joko Jumadi mengatakan, terduga pelaku melakukan aksi kekerasan seksual kepada para korban dengan cara-cara yang terstruktur.

Kata Joko, para korban yang diperkosa tidak diperbolehkan membawa handphone saat diperkosa di kediaman pelaku. Dalam kasus ini, ucapnya lebih lanjut, pelaku sangat rapi dan terencana ketika menyerang mental para korban.

"Pelaku ini sangat mempertimbangkan, paham soal hukum yang ada di Indonesia. Apa kemudian kami mau mengalah dengan pelaku? Inilah yang mengusik hati saya dan tim di lapangan untuk harus dilawan," kata Joko kepada detikBali, Selasa (5/7/2022).

Pasca pelaporan yang dilakukan BKBH FH Unram, sebut Joko, Polda NTB memang mulai bertindak. Namun, Polda NTB kesulitan mengamankan pelaku karena pasal yang digunakan bukan undang-undang yang baru disahkan (undang undang TPKS).

"Jadi kami akan buktikan. Ini yang menjadi persoalan. Paling memungkinkan dari Polda NTB ialah segera memeriksa pelaku. Nanti dari hasil pemeriksaan seperti apa, baru kami akan mengambil langkah yang lebih realistis," ujarnya.

Saat ini BKBH FH Unram, ungkap Joko, menyerahkan sepenuhnya proses pemeriksaan para saksi dan korban kekerasan seksual di lingkungan kampus di Kota Mataram yang menyeret sepuluh orang mahasiswi. "Kami minta kepolisian konsen memeriksa para saksi dan para korban. Itu dulu baru kemudian melakukan langkah selanjutnya," pungkas Joko.



Simak Video "Perjalanan Panjang Amaq Sinta Melawan Begal"
[Gambas:Video 20detik]
(irb/irb)