70 Warga Penatoi Bima Ditangkap Terkait Kasus Terorisme Sejak 2010

Ahmad Viqi - detikBali
Sabtu, 25 Jun 2022 10:10 WIB
Ilustrasi penggerebekan teroris (insert) (Luthfy Syahban/detikcom)
Foto: Ilustrasi penggerebekan teroris (insert) (Luthfy Syahban/detikcom)
Bima -

Penangkapan pelaku terorisme di Lingkungan Penatoi, Kelurahan Penatoi, kecamatan Mpunda, Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) sudah tercatat 70 orang sejak tahun 2010.

"Totalnya itu semua yang sudah ditangkap dari yang meninggal dan bebas dan masih ditahan itu 70 orang," kata Ketua RT Penatoi, Darussalam, Sabtu (25/6/2022).

Menurut Darus, sapaannya, sejak Juni tahun 2021 hingga Juni tahun 2022, tercatat sudah ada 12 pelaku terorisme yang diamankan di Lingkungan Penatoi, Kelurahan Penatoi, di Kecamatan Mpunda, Bima.


"Total dalam 12 bulan ini sudah ada tiga kali penangkapan dengan 12 tersangka. Kalau ditotal dari awal penangkapan itu kurang lebih 70 pelaku yang ditangkap," kata Darus.

Terkait kasus penangkapan terduga pelaku teroris inisial S, A dan M. Mereka bertiga, kata Darus, kerap melakukan pengajian-pengajian tertutup dengan cara sembunyi-sembunyi. Dari masing-masing pelaku ini acap kali memberikan khotbah bernuansa tauhid dan jihad.

"Untuk terduga pelaku S kan dia sering ngisi materi. Entah apa isinya kami tidak ngerti. Dia juga disebut ustaz karena sering isi ceramah," katanya.

Selain itu terduga pelaku S juga kerap mengisi ceramah Jumat seperti biasa di masjid-masjid. "Setahu kami. Biasanya kalau di internal mereka dia sering begitu kajian. Nah kajiannya ini yang kami tidak tahu," kata Darus.

Adapun dari isi khotbah yang diberikan terduga pelaku S itu biasanya seputar tauhid seputar thagut . Namun anehnya kata Darus hampir semua warga yang tinggal di Penatoi anggap semua yang disampaikan terduga S hanyalah hal yang biasa saja.

"Yang gitu-gitu itu memang harus disikapi biasa. Karena sudah terlalu sering mereka," tuturnya.

Dari sepengetahuan Darus, isi kajian-kajian yang disebarkan masing-masing pelaku teroris tidak terlalu diketahui oleh warga Penatoi.

"Warga sudah menerima kegiatan mereka. Sebenarnya gini, semua ini kan satu darah, satu nenek satu buyut. Satu kampung satu darah di Penatoi. Jadi kalau ada yang begitu tidak mungkin diusir wong anaknya kakaknya. Ini Agus ini keponakan dari satu kampung ini satu keluarga besar," kata Darus.

Data jumlah kepala keluarga di lingkungan Penatoi tercatat mencapai 1.500 KK. Dari 1.500 KK itu kata Darus hampir 90 persen warga merupakan satu keluarga satu rumpun.

Sebelumnya, Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol Artanto mengatakan pihaknya belum bisa memberikan keterangan resmi terkait afiliasi ketiga terduga pelaku teroris inisial S, A, dan M. Pihaknya belum bisa memastikan apakah mereka (ketiga pelaku, red) dari afiliasi Jamaah Ansharut Daulah atau tidak.

"Kita tunggu keterangan resmi dari Mabes Polri ya," kata Artanto usai rapat persiapan event MXGP Samota di Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi NTB, Senin (20/6/2022) sore.



Simak Video "Atraksi Berbahaya di Pantai Senggigi, Lombok"
[Gambas:Video 20detik]
(kws/kws)