Toleransi Tinggi, Saling Berbagi Lahan Parkir Gereja-Masjid di Kupang

Djemi Amnifu - detikBali
Minggu, 01 Mei 2022 12:28 WIB
Rumah ibadah itu adalah Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dan Masjid Al-Mutaqqin berdiri kokoh terpisah pagar tembok sebagai pembatasnya.
Rumah ibadah itu adalah Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dan Masjid Al-Mutaqqin berdiri kokoh terpisah pagar tembok sebagai pembatasnya. (Foto: Djemi Amnifu/detikBali)
Kupang -

Dua bangunan rumah ibadah terletak Jalan KB Mandiri No 2 dan No 3 di RT 9/RW 30 Kelurahan Kelapa Lima Kecamatan Kelapa Lima Kota Kupang. Letaknya, di tengah pemukiman warga kedua rumah ibadah ini sudah terlihat dari jauh begitu kita memasuki kawasan Walikota Baru.

Kedua rumah ibadah itu adalah Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dan Masjid Al-Mutaqqin yang terpisah pagar tembok sebagai pembatasnya.

Puluhan tahun, kedua rumah ibadah ini menjadi saksi betapa kerukunan dan toleransi antar umat beragama sudah terpelihara baik. Malahan hidup berdampingan selama puluhan tahun di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) membuat umat Kristen dan Islam hidup rukun tanpa membedakan-bedakan sebagai mayoritas atau minoritas.


Bahkan, umat Kristen dan Islam di wilayah Kelurahan Kelapa Lima Kecamatan Kelapa Lima saling mendukung dengan berbagi parkir.

"Lahan parkir yang terbatas membuat Jemaat Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Kupang menggunakan halaman masjid untuk memarkir mobil mereka selama beribadah di hari Minggu," kata Sekretaris Pengurus Yayasan Al-Mutaqqin, Bahudin Syuan Lang disela-sela pembagian Zakat di halaman Masjid Al-Mutaqqin kepada detikcomBali, Minggu (1/5/2022).

Begitu pula sebaliknya kata Bahudin Syuan Lang, pemuda gereja juga seringkali membantu dan menyediakan lahan parkir untuk umat Muslim yang akan salat Jumat di Masjid Al-Mutaqqin.

Kerukunan antar umat beragama yang memiliki tempat ibadah berdampingan ini, harus tetap dijaga karena merupakan bagian dari ajaran Islam.

"Jadi kalau bicara tentang toleransi, Islam itu datang sebagairahmatan lil alamin . Allah mengasihi seluruh mahluknya, begitu pula kita harus melakukan itu," jelasnya.

Menurut Bahudin Syuan Lang, letak Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Kupang dan Masjid Al-Muttaqin yang hanya dibatasi pagar membuat mereka harus bisa menjadi contoh, khususnya soal toleransi, bukan saja bagi saudara-saudara yang di NTT namun juga di Indonesia.

"Selama ini toleransi antar umat Kristen dan Islam tidak pernah ada masalah dan malah saling membantu. Saling mengerti saja, seperti saat bulan Ramadan ini, kami memberitahu saudara-saudara kami yang beragama Kristen tentang kegiatan yang akan kami lakukan seperti tarawih yang rutin," ungkap Bahudin Syuan Lang.

Ia memberi contoh seperti saat bulan Ramadan seperti sekarang, kedua umat saling menghormati selama kegiatan keagamaan berlangsung.

"Saling mengerti saja, seperti saat bulan Ramadan ini, kami memberitahu saudara-saudara kami yang beragama Kristen tentang kegiatan yang akan kami lakukan seperti tarawih yang rutin, lomba untuk anak-anak, dan kami pun tak memasang volume speaker yang keras," jelas Syuan, biasa disapa.

Menurut Syuan, selama bulan Ramadan, masjid baru mengadakan acara setelah kebaktian selesai dilakukan.

"Untuk jam-nya, kami menyesuaikan jika itu sudah hari Minggu. Tetapi untuk sehari-hari, acara di gereja biasanya sudah selesai pada siang hari sebelum waktu salat dzuhur, karena mereka paham waktu salat kan tidak bisa ditunda," jelasnya.

Kota Kupang, Kota Toleran di Indonesia

Sebelumnya, pada tanggal 30 Maret 2022 lalu, Setara Institute mengumumkan sepuluh kota toleran di Indonesia dan Kota Kupang berada di urutan keempat dengan meraih skor 6,337. Kota Singkawang dinobatkan sebagai kota paling toleran dengan skor 6,483. Sedangkan kota Salatiga berada di posisi ketiga dengan meraih skor 6,367 yang pada tahun 2021 meraih urutan 1.

Kondisi ini menggambarkan adanya peningkatan dalam hal toleransi di Kota Kupang yang dapat dikatakan menjadi semakin baik. Riset yang dilakukan Setara Institute sendiri mempertimbangkan empat variabel dengan delapan indikator sebagai tolak ukur berbasis paradigma hak konstitusional warga sesuai Hak Asasi Manusia (HAM).

Variabel pertama adalah regulasi pemerintah dengan indikator RPJMD dan kebijakan diskriminatif. Selanjutnya adalah tindakan nyata dengan indikator pernyataan dan tindakan nyata pemerintah kota. Kemudian, variabel ketiga regulasi sosial mencakup indikator peristiwa intoleransi dan dinamika masyarakat sipil. Variabel keempat Demografi Sosial- Agama meliputi indikator heterogenitas dan inklusi sosial.

Jefirtson R Riwu Kore, selaku Wali Kota Kupang menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi sehingga kota Kupang dapat meraih penghargaan ini

"Saya baru saja menerima Penghargaan untuk Kota Kupang sebagai Kota Toleran di Indonesia, Tahun lalu Kota Kupang mendapat peringkat 5, dan tahun ini kita menjadi peringkat 4, Terima kasih untuk masyarakat Kota Kupang yang terus menjadikan Kota Kupang sebagai Rumah Besar Persaudaraan dan Persahabatan," kata Jefri, demikian biasa disapa.



Simak Video "Melihat Gereja-Masjid di Kupang, Saling Berbagi Lahan Parkiran"
[Gambas:Video 20detik]
(kws/kws)