detikBali

Ada Sejak 1983, Terang Bulan Jadul di Pasar Beringkit Laris Diburu Pembeli

Terpopuler Koleksi Pilihan

Ada Sejak 1983, Terang Bulan Jadul di Pasar Beringkit Laris Diburu Pembeli


Sui Suadnyana, Agus Eka - detikBali

Ni Mangku Renggani tengah menyajikan terang bulan jadul untuk pelanggan saat berjualan di Pasar Beringkit, Desa Mengwitani, Kecamatan Mengwi, Badung, Minggu (9/8/2026) sore. (Agus Eka/detikBali)
Foto: Ni Mangku Renggani tengah menyajikan terang bulan jadul untuk pelanggan saat berjualan di Pasar Beringkit, Desa Mengwitani, Kecamatan Mengwi, Badung, Minggu (9/8/2026) sore. (Agus Eka/detikBali)
Badung -

Terang bulan jadul di Pasar Beringkit, Desa Mengwitani, Kecamatan Mengwi, Badung, Bali, jadi salah satu kuliner favorit yang kerap diburu warga. Padahal, jajanan ini hanya dijual setiap Rabu dan Minggu, mengikuti jadwal buka Pasar Beringkit.

Jajanan yang dijual oleh Ni Mangku Renggani ini terbilang legendaris karena sudah ada sejak 1983. Kuliner ini sejatinya adalah varian klasik dari martabak manis yang mempertahankan teknik adonan serta cita rasa tradisional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berbeda dari terang bulan modern yang cenderung tebal dengan topping melimpah, versi jadul ini disajikan dengan adonan yang lebih tipis, tekstur lembut. Terang bulan jadul ini juga memiliki sentuhan aroma pandan dan nangka alami yang menyeruak saat dipanggang.

"Saya jualan sudah dari tahun 1983. Martabak dulu kan enggak ada yang isi seperti zaman sekarang, yang namanya topping. Rasanya itu secukupnya saja. Dahulu nggak ada (rasa), makanya dibilangnya martabak jadul saja," terang Renggani saat ditemui di Pasar Beringkit, Minggu (9/8/2026) sore.

ADVERTISEMENT
Terang bulan jadul yang dijual Ni Mangku Renggani di di Pasar Beringkit, Desa Mengwitani, Kecamatan Mengwi, Badung, Minggu (9/8/2026) sore. (Agus Eka/detikBali)Foto: Terang bulan jadul yang dijual Ni Mangku Renggani di di Pasar Beringkit, Desa Mengwitani, Kecamatan Mengwi, Badung, Minggu (9/8/2026) sore. (Agus Eka/detikBali)

Meski begitu, perpaduan taburan isi berupa cokelat, keju, kacang hingga pisang mulai dihadirkan dalam porsi yang pas di mulut sehingga tidak memunculkan rasa enek. Ukurannya yang setara martabak manis pada umumnya membuat kuliner seharga Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu ini dinilai sangat sepadan dengan kualitas rasa manis dan gurih yang ditawarkan.

Konsistensi rasa membuat lapak ini selalu dibanjiri pesanan dalam jumlah besar setiap kali buka. Sejak dibuka pukul 06.00 Wita, adonan berliter-liter selalu dihabiskan untuk memenuhi puluhan porsi pesanan pelanggan sampai sore hari. "Bisa habis 3 ember, 4 ember adonan, kalau pesanan 100-200 lebih ada," jelas Renggani.

Tingginya antusiasme pembeli kerap membuat antrean mengular, terutama pada saat jam-jam sibuk di siang hari. Kondisi tersebut memaksa pengelola menerapkan sistem pengambilan nomor antrean agar pelayanan tetap teratur.

"Lumayan banyak yang beli, pakai nomor sekarang kalau hari Minggu. Padatnya mulai jam 11-an siang seterusnya sampai sore. Jadinya pakai antrean, dipanggil baru dapat jajan, gitu," tutur Renggani.

Usaha yang dirintis Renggani sejak empat dekade ini terus berlanjut dengan bantuan anggota keluarga. Aktivitas meracik adonan hingga melayani deretan pembeli ia jalani bersama suami dan dua cucunya.

"Jualannya sama Ayah Mangku (suami), sama ini cucunya nih. Cucu anak ketiga," ungkap tutur wanita berusia 64 tahun tersebut sembari menunjuk sang cucunya yang ikut membantu.



(iws/iws)









Hide Ads