detikBali

Kisah Bakso Eso, Kuliner Legendaris Baturiti Sejak 1965

Terpopuler Koleksi Pilihan

Kisah Bakso Eso, Kuliner Legendaris Baturiti Sejak 1965


I Dewa Made Krisna Pradipta - detikBali

Ni Luh Suryantini melanjutkan usaha Bakso Eso legendaris warisan ayahnya di Banjar Pacung, Desa Baturiti, Kecamatan Baturiti, Tabanan, Bali. (Foto: Krisna Pradipta/detikBali)
Ni Luh Suryantini melanjutkan usaha Bakso Eso legendaris warisan ayahnya di Banjar Pacung, Desa Baturiti, Kecamatan Baturiti, Tabanan, Bali. (Foto: Krisna Pradipta/detikBali)
Tabanan -

Bakso Eso menjadi salah satu kuliner legendaris di Banjar Pacung, Desa Baturiti, Kecamatan Baturiti, Tabanan, Bali. Usaha bakso yang dirintis sejak 1965 oleh almarhum I Wayan Sukarya itu tetap eksis hingga hari ini.

Jika dihitung, usaha kuliner Bakso Eso sudah bertahan selama lebih dari enam dekade. Kini, warung bakso tersebut diteruskan oleh putri sulung Sukarya, Ni Luh Suryantini (49) beserta suami dan anak-anaknya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Suryantini menuturkan almarhum ayahnya sudah berjualan bakso sejak remaja. Kala itu, Sukarya berjualan menggunakan gerobak keliling di kawasan Pasar Baturiti.

"Bapak berasal dari Marga Tabanan. Saat remaja, beliau merantau ke Baturiti, menikah di sini dan menetap hingga mengembangkan usaha Bakso Eso ini," tutur Suryantini, Minggu (1/8/2026).

ADVERTISEMENT

Menurut Suryantini, keunikan bakso ini terletak pada penggunaan eso atau usus sapi sebagai pelengkap utama yang dipadukan dengan tetelan sapi. Ciri khas tersebut tetap dipertahankan dan menjadi pembeda dengan bakso pada umumnya. Tambahan bubur juga menjadi pelengkap lezatnya kuliner ini.

Suryantini teringat harga bakso saat ayahnya mulai merintis usaha tersebut pada 1965 hanya Rp 5. Dari tiga anak perempuan almarhum Sukarya, Suryantini bersama adiknya Ni Kade Suryaningsih sama-sama melanjutkan usaha bakso keluarga di kawasan Baturiti.

"Sekarang satu porsi dijual seharga Rp 20 ribu," ujarnya.

Meski zaman telah berubah, Suryantini tetap berupaya mempertahankan cita rasa Bakso Eso dengan resep warisan sang ayah. Selain bakso sapi dengan ciri khas usus dan tetelan, ia juga menyediakan bakso ayam untuk memenuhi selera pelanggan.

Bakso Eso melayani pembeli di Pasar Baturiti setiap pagi hingga pukul 11.00 Wita. Setelah itu, penjualan dilanjutkan di warung yang berada di sebelah selatan Pasar Baturiti mulai pukul 12.00 hingga 18.00 Wita.

Untuk memenuhi kebutuhan produksi, Suryantini menghabiskan sekitar lima kilogram (kg) daging sapi dan ayam setiap hari. Bahan baku daging diperoleh dari pemasok di wilayah Buleleng dan Denpasar guna menjaga kualitas rasa yang telah menjadi ciri khas Bakso Eso selama puluhan tahun.



(iws/iws)









Hide Ads