detikBali

Kasus Pegawai SMAN 1 Sanggar Bima Kampanyekan LGBT Berakhir Damai

Terpopuler Koleksi Pilihan

Kasus Pegawai SMAN 1 Sanggar Bima Kampanyekan LGBT Berakhir Damai


Rafiin - detikBali

Pegawai SMAN 1 Sanggar dan perwakilan keluarga siswa yang sepakat damai di Mapolsek Sanggar, Kabupaten Bima, NTB pada Senin (28/9/2026).
Foto: Pegawai SMAN 1 Sanggar dan perwakilan keluarga siswa yang sepakat damai di Mapolsek Sanggar, Kabupaten Bima, NTB pada Senin (28/9/2026). (Dok. Satreskrim Polres Bima)
Bima -

Kasus viral pegawai tata usaha (TU) SMAN 1 Sanggar Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), berinisial Y, yang diduga mengampanyekan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di media sosial (medsos) berakhir damai. Kasus yang dilaporkan oleh orang tua siswa itu diselesaikan secara kekeluargaan.

"Betul, kasus foto viral pegawai SMAN 1 Sanggar dan siswa dengan tagar LBGT berakhir damai," ucap Kasat Reskrim Polres Bima AKP Dediansyah dikonfirmasi detikBali, Selasa (29/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dediansyah mengaku kesepakatan damai setelah Unit PPA Satreskrim Polres Bima bersama Polsek Sanggar melakukan klarifikasi di Mapolsek Sanggar pada Senin (28/9/2026). Kedua belah pihak (pegawai dan siswa) juga dipertemukan untuk mediasi.

Menurutnya, proses mediasi dihadiri pekerja sosial (peksos), penerjemah dari sekolah luar biasa (SLB), pihak SMAN 1 Sanggar, serta perwakilan keluarga dari pihak pegawai yang berstatus terlapor dan siswa berstatus pelapor.

ADVERTISEMENT

"Dipertemukaan hingga dimediasi. Hasilnya kedua belah pihak sepakat untuk menyelesaikan persoalan ini secara kekeluargaan," jelasnya.

Pada saat mediasi itu, Dediansyah mengaku pihaknya memberikan penekanan kepada para pihak yang terlibat agar tidak lagi mengunggah foto atau video menggunakan tagar LGBT.

"Kami imbau semua pihak untuk tidak lagi mengunggah postingan dengan unsur orientasi seksual dan identitas gender yang berbeda dari lainnya di media sosial," tandasnya.

Di samping itu, Dediansyah mengingatkan agar para orang tua menjaga pergaulan anak-anaknya dan lebih meningkatkan iman agar kembali ke jalan yang semestinya dan tidak bernaung pada orientasi yang menyimpang.

"Yang tidak kalah penting agar lebih berhati-hati dan adanya peran kontrol dari orang tua dan guru serta orang-orang terdekat dalam bersosial media sosial," ujar Dediansyah.

"Peran orang sangat krusial dalam mengontrol pergaulan hingga penggunaan medsos bagi anak-anak," tandasnya.



(hsa/hsa)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads