Pengadaan mobil pikap untuk Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih diduga di-mark up hingga Rp 61-69 juta per unit. Penggelembungan dana itu ditemukan oleh Indonesia Corruption Watch (ICW).
Walhasil, jika diakumulasikan dengan target pengadaan pikap sebanyak 80 ribu unit, maka ICW menaksir potensi perburuan rente mencapai Rp 4,86 triliun hingga Rp 5,54 triliun.
"Secara keseluruhan, temuan ICW menunjukkan bahwa pengadaan mobil pikap KDMP berpotensi tidak memenuhi prinsip transparansi, akuntabilitas, efisiensi dan persaingan usaha yang sehat," tulis ICW dilansir dari detikOto.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengaku belum memiliki data yang menjadi temuan ICW tersebut. Purbaya tengah menunggu hasil audit dari pengadaan mobil pikap tersebut.
"Kan nanti diaudit. Begitu diaudit, lolos, baru dia nagih ke saya, saya bayar. Jadi saya secure, aman," kata Purbaya.
Sebagai informasi tambahan, PT Agrinas Pangan Nusantara mengimpor 105.000 kendaraan niaga senilai Rp 24,66 triliun impor dari India. Kontrak tersebut mencakup pengadaan total 105.000 unit kendaraan dari dua produsen otomotif asal India.
Sebanyak 35.000 unit Scorpio Pickup dipasok oleh Mahindra, sementara 70.000 unit lainnya berasal dari Tata Motors, terdiri atas 35.000 unit Yodha Pickup dan 35.000 unit Ultra T.7 Light Truck.
Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo de Sousa Mota, menjelaskan bahwa mengajukan penawaran pembelian "gelondongan". Pembelian dalam jumlah besar seharusnya diganjar dengan harga yang lebih ekonomis dan efektif sesuai anggaran negara. Menurutnya, hanya produsen India yang menyanggupi pengadaan tersebut.
Pabrikan lokal yang sudah lama mendominasi pasar Indonesia disebut enggan memberikan fleksibilitas harga tersebut. "Mereka (produsen lokal) cenderung merasa bahwa membeli bulk itu tidak ada bagi mereka, tetap dihitung per unit. Menurut saya itu tidak fair," tegas Joao.
Karena produsen lokal tetap bertahan pada skema harga pasar biasa (per unit), pihaknya memilih mencari alternatif ke luar negeri. India, lewat Tata Motors dan Mahindra hadir memberikan penawaran yang lebih masuk akal bagi kantong anggaran proyek Koperasi Merah Putih. Keputusan impor ini akhirnya menjadi langkah terakhir yang terpaksa diambil.
Artikel ini telah tayang di detikNews. Baca selengkapnya di sini!