Mahasiswi Universitas Mataram (Unram) berinisial AJP yang dituding menjadi pemeran video asusila berdurasi 13 menit di posko tempat KKN di Desa Lenek, Kecamatan Lenek, Lombok Timur, itu alami trauma. Video asusila yang memperlihatkan adegan orang dewasa tersebut viral di media sosial (medsos).
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unram, Andi Chairil Ichsan, mengatakan saat ini mahasiswi tersebut telah mendapat penampingan psikologi dari Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) Unram.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi korban sudah mendapatkan pendampingan dari Satgas PPKS untuk pemulihan psikologis, menyemangati, men-support yang bersangkutan ," ujar Andi dihubungi detikBali, Rabu (11/2/2026).
Pihak Unram, Andi berujar, telah mengeluarkan klarifikasi resmi diwakili oleh Ketua Satgas PPKS Unram Joko Jumadi bertujuan agar pemulihan nama baik mahasiswa tersebut kembali. Sejak video itu beredar, psikologis korban terganggu.
"Ini kami lakukan dalam rangka pemulihan psikologis akibat pemberitaan yang tidak benar tersebut. Jadi kami di LPPM juga melakukan pendampingan buat mahasiswa kami," tegas Andi.
Dampak lain, Andi melanjutkan, AJP banyak mendapatkan hujatan oleh sejumlah orang lantaran berita bohong yang beredar. Dari tudingan itu, korban pun berhak mendapatkan pemulihan atas berita-berita yang tidak benar tersebut.
"Pada prinsipnya kalau untuk video yang beredar itu sudah kami tegaskan bahwa itu bukan mahasiswa Unram. Nah sekarang kami lebih fokus ke pemulihannya si adik itu aja terlebih dahulu," tandas Andi.
Sebelumnya, Polres Lombok Timur menelusuri pengunggah video asusila yang diduga melibatkan mahasiswa KKN dari salah satu perguruan tinggi. Penelusuran dilakukan menyusul viralnya video tersebut di media sosial.
"Kami masih melakukan penyelidikan terkait kebenaran video tersebut, kami masih telusuri," ujar Kasatreskrim Polres Lombok Timur, Iptu Arie Kusnandar, saat dikonfirmasi detikBali, Rabu.
Arie mengatakan selain memastikan kebenaran video yang beredar, pihaknya juga fokus menelusuri pihak yang pertama kali mengunggah video tersebut di media sosial. Penelusuran dilakukan meskipun kampus terkait telah memberikan klarifikasi.
"Kami tetap melakukan penelusuran terkait kebenaran video tersebut, meskipun sudah ada klarifikasi dari pihak kampus, kami juga sedang mencari pengunggah video tersebut di medsos," ujar Arie.
(hsa/hsa)










































