Sebuah grup Facebook bernama Genk Gay Lombok Tengah belakangan heboh dibicarakan di media sosial (medsos). Anggota grup tersebut mencapai 1.800 orang.
Pantauan detikBali, Minggu (18/1/2026) setidaknya terdapat tiga grup yang sama. Yaitu, Genk Gay Lombok Tengah dengan pengikut 1,8 ribu, Gay Lombok 3,3 ribu, dan Gay Lotim 1,9 ribu pengikut. Khusus akun Genk Gay Lombok Tengah telah dibuat sekitar 11 tahun yang lalu tepatnya pada 27 November 2014.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Dinas Kesehatan Lombok Tengah, Suardi, tak menampik keberadaan komunitas lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di daerah tersebut. Ia menyebut, anggota dari perkumpulan ini mayoritas kalangan anak-anak muda. Namun, pihaknya hingga kini belum mendapatkan data resmi terkait jumlahnya.
"Walaupun kita belum punya data pasti terkait perilaku seks menyimpang di Dinas Kesehatan kabupaten Lombok Tengah, tetapi fenomena perilaku gay atau homoseksual pada generasi muda sudah ada," katanya, dikonfirmasi detikBali, Minggu (18/1/2026).
Suardi mengatakan keberadaan komunitas LGBT ini memiliki risiko yang cukup tinggi. Terutama jika melibatkan perilaku seksual tidak aman.
Beberapa bahaya gay bagi generasi muda dapat dilihat dari berbagai sudut pandang.
"Risiko kesehatan fisik bisa menimbulkan penyakit menular seksual. Kelompok gay pria yang berhubungan seks dengan pria memiliki risiko lebih tinggi terinfeksi penyakit menular seksual (PMS) karena perilaku seks anal," ujarnya.
Selain itu, LGBT juga dinilai rentan menjadi pintu masuk penularan Human Immunodeficiency Virus (HIV), kanker anal dan mulut dan infeksi lain seperti penyakit Human Papilloma Virus (HPV), hepatitis B dan Hepatitis C.
"Ini juga berbahaya bagi kesehatan mental dan psikologis. Remaja yang terlibat dalam perilaku LGBT cenderung rentan terhadap masalah kesehatan mental karena stigma dan tekanan sosial," bebernya.
Kesehatan mental ini dapat berupa, depresi dan kecemasan. Risiko depresi lebih tinggi pada remaja dengan orientasi seksual minoritas akibat perlakuan tidak menyenangkan atau diskriminasi.
"Ada juga masalah citra tubuh. Pria gay lebih rentan terhadap gangguan makan (eating disorder) dan dismorfia tubuh, seringkali dipicu oleh standar tubuh yang tidak realistis," imbuhnya.
Tak itu saja, Suardi berujar, gay juga rentan menimbulkan dampak sosial dan budaya. Hal ini dikarenakan akan timbul stigma dan diskriminasi dari masyarakat sekitar. Ia menyebut, dampak lain juga bisa menimbulkan konflik keluarga.
"Individu LGBT sering mengalami ketidaknyamanan, pengucilan, dan diskriminasi di lingkungan sosial maupun keluarga. Oleh karena itu penguatan ilmu agama dan kesehatan reproduksi menjadi sangat penting diberikan di sekolah agar sedini mungkin bisa dilakukan pencegahan," pungkasnya.
(hsa/hsa)










































