Rekonstruksi 75 rumah adat Sade di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) capai 55 persen. Rekonstruksi puluhan rumah yang hangus terbakar pada Sabtu malam 22 Agustus lalu itu juga menjadi momentum mewarisi tradisi gotong-royong dan keterampilan arsitektur tradisional kepada generasi anak muda di Sade.
"Sekarang yang terjadi itu (progres) 55 persen. Dari 75 bangunan, sisa 20 yang belum. Mungkin dalam bulan ini selesai untuk dasar bangunannya saja," kata Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB, Muhammad Ihwan, di Mataram, Jumat (23/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ihwan mengapresiasi tingginya semangat gotong royong masyarakat lokal dengan mengandalkan keahlian arsitektur tradisional mereka sendiri. Menariknya, proses rekonstruksi ini banyak melibatkan anak-anak muda setempat sehingga terjadi transfer pengetahuan dan pelestarian budaya secara langsung.
"Yang paling menggembirakan itu terjadi pewarisan keterampilan dalam konteks pelestarian dan perlindungan. Rumah adatnya dilestarikan, maestronya juga dilestarikan," ujar Ihwan.
Sebagian rumah sudah bisa ditempati dan proses penyempurnaan terus dilakukan. Tim satgas bersama para ahli akan melalukan kurasi ulang agar bentuk bangunan benar-benar mendekati arsitektur adat aslinya.
Selain itu, Ihwan berujar, skema pembangunan juga disempurnakan dengan menyisipkan fasilitas utilitas modern yang ramah bencana.
"Karena masyarakat membangun secepatnya, nanti kita masukin drainase, listrik, dan utilitas pendukung lainnya supaya bangunan bebas bencana. Jadi kalau ada bencana lagi, bisa langsung berfungsi," jelasnya.
Biaya pembangunan kembali Dusun Adat Sade melibatkan kolaborasi pendanaan dari berbagai pihak, mulai dari swadaya masyarakat, bantuan publik, hingga fasilitasi Pemprov NTB dan Pemkab Lombok Tengah. Pemprov NTB juga tengah mendata seluruh bantuan yang masuk secara transparan.
Terkait dukungan dana pusat, Ihwan menyebutkan bahwa kebutuhan awal yang diusulkan mencapai sekitar Rp 25 hingga Rp 30 miliar. Namun, karena fisik bangunan dasar sudah dikerjakan masyarakat, biaya per rumah kini berkurang dari Rp 115 juta menjadi sekitar Rp 75 juta per unit.
"Jadi dananya disesuaikan ya. Kalau total yang sudah terpakai kita belum hitung nanti kita data dulu," ujarnya.
Ke depan, setelah seluruh proses penyempurnaan selesai, Dusun Adat Sade akan didorong secara resmi menjadi Cagar Budaya melalui Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Lombok Tengah.
"Nanti proses cagar budayanya mulai dari Tim Ahli Cagar Budaya Lombok Tengah yang melakukan proses," pungkas Ihwan.