detikBali

Warga Gotong Royong Bangun Ulang Desa Adat Sade Usai Kebakaran

Terpopuler Koleksi Pilihan

Warga Gotong Royong Bangun Ulang Desa Adat Sade Usai Kebakaran


Edi Suryansyah - detikBali

Progres pembangunan ulang rumah-rumah di Desa Adat Sade, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Kamis (1/10/2026).
Progres pembangunan ulang rumah-rumah di Desa Adat Sade, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Kamis (1/10/2026). (Foto: Edi Suryansyah/detikBali)
Lombok Tengah -

Warga Kampung Adat Desa Sade, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), mulai membangun ulang rumah yang ludes akibat kebakaran ekstrem pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026. Saat ini, hampir seluruh rumah sudah dibangun ulang menggunakan dana donasi dan swadaya masyarakat.

Pantauan detikBali pada pukul 13.30 Wita, terlihat sejumlah tukang tengah merakit alang-alang yang akan dijadikan atap. Di sisi lain, sejumlah pekerja juga terlihat menyusun rangka rumah dari bahan kayu dan bambu.

Rata-rata proses pembangunan ulang rumah tersebut saat ini telah mencapai 30-50 persen. Pemasangan atap dikebut selesai sebelum musim hujan agar material tetap terjaga, sembari menyambut kembali wisatawan dunia di tengah riuhnya gelaran di Mandalika.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah seorang warga Desa Adat Sade, Merti atau Inaq Kurnia, mengatakan pembangunan rumah dilakukan menggunakan dana hasil donasi. Hanya saja, nominal yang dibutuhkan masih terpaut jauh dengan uang yang terkumpul.

ADVERTISEMENT

"Ada dari donasi, tapi banyakan dari uang kita pribadi kita masing-masing. Karena sumbangan yang ada itu kan sedikit," katanya kepada detikBali, Kamis (1/10/2026).

Merti membeberkan sumber dana awal yang digunakan untuk pembangunan berasal dari donasi yang dikumpulkan warga. Seperti sumbangan Rp 1 miliar dari Raffi Ahmad dan Rp 2 miliar dari perusahaan asing di KEK Mandalika, Sapo.

"Pokoknya yang saya terima itu Rp 28.250.000 dari donatur. Raffi Ahmad Rp 10 juta dan Sapo Rp 13 juta," imbuhnya.

Di sisi lain, warga Sade juga menerima sumbangan material dari seorang warga negara asing (WNA) yang datang berkunjung setelah kebakaran. Mereka mendapatkan bantuan berupa biaya pembelian alang-alang sebanyak 100 ikat.

"Kalau alang-alang itu dari bantuan Bule dari Amerika. Pas dateng foto-foto lalu ngasih bantuan. Sama-sama 50 pikulan," ujarnya.

Warga Percepat Pembangunan Rumah

Warga lainnya, Nalem, mengatakan hal serupa. Masyarakat tidak bisa terus-menerus bertahan di tempat pengungsian maupun menumpang di rumah kerabat. Warga saat ini bahu-membahu bergotong royong agar aktivitas segera kembali normal.

"Makanya langsung gotong royong bikin kerangka rumah kemudian atapnya supaya ada tempat berteduh. Soal desain dari pemerintah nanti kami ikuti, yang penting sekarang anak-anak ndak kehujanan dan kepanasan lagi," ungkapnya.

Meski mendahului proses perancangan desain resmi dari pemerintah daerah, Nelem menegaskan masyarakat tetap berkomitmen menjaga kelestarian arsitektur lokal. Pembangunan kerangka rumah hingga atap tetap menggunakan bahan-bahan tradisional serta mempertahankan model bangunan asli Desa Sade.

"Ndak bakal kita ubah modelnya. Kami cuma mau percepat saja biar bisa segera ditempati, nanti kalau penataan dari pemda turun tinggal disesuaikan," tegasnya.

Ia pun berharap pemerintah daerah dapat memberikan dukungan untuk pemenuhan fasilitas dasar yang belum terjangkau swadaya masyarakat, seperti instalasi kelistrikan dan sanitasi.

"Kami paham pemerintah sedang siapkan desain dan anggaran, tapi kebutuhan rumah ini sangat mendesak. Harapan kami nanti pemerintah tinggal bantu rapikan sanitasi dan kelistrikannya seperti yang dijanjikan," pungkasnya.



(dpw/dpw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads