Singaraja Literary Festival (SLF) menegaskan ingin menjadikan Singaraja sebagai pusat pengembangan sastra kawasan Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Langkah itu menguat setelah SLF dipercaya Kementerian Kebudayaan RI mengelola program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Lab dan Presentasi 2026.
Pendiri SLF, Made Adnyana Ole, menyebut program tersebut menjadi momentum penting untuk memetakan sekaligus memperkuat ekosistem sastra di kawasan Bali-Nusra atau dulu disebut Sunda Kecil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau dulu Buleleng sering membanggakan diri sebagai ibu kota Sunda Kecil, mungkin sekarang kita bangkitkan itu bahwa Singaraja menjadi ibu kota sastra," kata Ole dalam konferensi pers di Buleleng, Sabtu (16/5/2026).
Ole mengungkapkan antusiasme peserta dalam program ini cukup tinggi. Ratusan karya dari penulis Bali, NTB, dan NTT mendaftar sebelum akhirnya diseleksi tiga kurator, yakni Royyan Julian, Kiki Sulistyo, dan Maria Pankratia.
Dari sekitar 200 karya yang masuk, terpilih 13 penulis emerging writers. Rinciannya enam penulis asal Bali, empat dari NTB, dan tiga dari NTT. "Kurator membaca sekitar 200-an karya dari penulis. Akhirnya terpilih 13 emerging writers, enam dari Bali, empat dari NTB, dan tiga dari NTT," ujarnya.
Adapun 13 penulis yang lolos yakni Agus Wiratama (Bali), Bunga Damai Prasasti (NTB), Eyok El Abrorii (NTB), Beatrix Polen Aran (NTT), I Gede Aries Pidrawan (Bali), I Made Sugianto (Bali), Intan Soraya (NTB), Lina PW (Bali), Lisa Pingge (NTT), Mariemon Simon (NTT), Nityasa Wijaya (Bali), Novita Hidayani (NTB), dan Puspa Seruni (Bali).
Para peserta selanjutnya akan mengikuti mentoring daring pada 19-22 Mei 2026 bersama tiga mentor tersebut. Karya mereka kemudian dipresentasikan dalam rangkaian SLF yang digelar pada 3-5 Juli 2026 di Singaraja.
Ole menilai proses kurasi itu sekaligus memperlihatkan geliat sastra di kawasan Bali-Nusra masih sangat kuat. Menurutnya, banyak penulis muda di daerah tersebut telah menembus media nasional hingga aktif membangun ruang kreatif secara mandiri.
Ia mencontohkan sejumlah peserta asal Bali yang dinilai memiliki rekam jejak kuat di dunia sastra, seperti I Gede Aries Pidrawan, I Made Sugianto, hingga Puspa Seruni yang pernah terpilih dalam program emerging writer Ubud Writers & Readers Festival.
Menurut Ole, SLF tak hanya ingin melahirkan penulis baru, tetapi juga membangun jejaring sastra lintas daerah di Bali, NTB, dan NTT agar ekosistem literasi di kawasan timur Indonesia semakin berkembang.
"Nanti mereka bisa saling mengenal, berteman, berdiskusi, dan memantau perkembangan sastra di daerah masing-masing. Itu yang ingin dibangun lewat program ini," pungkasnya.
Sementara itu Direktur SLF sekaligus Promotor MTN Kadek Sonia Piscayanti mengatakan kepercayaan untuk mengelola program MTN menjadi capaian penting bagi festival sastra yang baru berjalan sejak 2023 itu. Menurutnya, MTN merupakan program prioritas nasional untuk menjaring, mengembangkan, dan mempromosikan talenta sastra Indonesia secara berkelanjutan.
"SLF sebagai tuan rumah seharusnya menjadi pusat pengembangan talenta sastra di Bali, NTB, dan NTT," kata Sonia.
Sonia menjelaskan, tahun lalu SLF hanya mendapat program MTN Asah Bakat dan Ikon Inspirasi yang berfokus pada lokakarya serta menghadirkan tokoh sastra populer seperti JS Khairen dan Boy Candra. Tahun ini, level program meningkat menjadi MTN Lab dan Presentasi karena dinilai berhasil menjalankan program sebelumnya.
Menurut Sonia, MTN Lab dirancang sebagai ruang pembinaan intensif bagi penulis muda Bali-Nusra melalui proses kurasi dan mentoring. Sementara MTN Presentasi menjadi panggung bagi peserta terpilih untuk mempresentasikan karya, berdiskusi, hingga menerbitkan buku.
"Talenta sastra Indonesia selama ini tumbuh tidak terstruktur dan tidak berkelanjutan. MTN diharapkan menjadi sistem untuk menjaring bakat-bakat sastra Indonesia agar siap bersaing secara global," ujarnya.
(hsa/hsa)










































