detikBali

Surya Stambha: Artefak Langka dari Pulau Sawu NTT

Terpopuler Koleksi Pilihan

Surya Stambha: Artefak Langka dari Pulau Sawu NTT


Arga Fahreza - detikBali

Artefak Surya Stambha Tersimpan di Museum Mpu Tantular, Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim). (Dok. Museum Mpu Tantular)
Foto: Artefak Surya Stambha Tersimpan di Museum Mpu Tantular, Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim). (Dok. Museum Mpu Tantular)
Sabu Raijua -

Nusa Tenggara Timur (NTT) menyimpan begitu banyak kekayaan budaya dari masa prasejarah. Tinggalan alat batu hingga logam lazim ditemukan di NTT. Salah satu yang menarik adalah temuan artefak perunggu dari Pulau Sawu. Artefak ini dinamakan Surya Stambha.

Peninggalan masa perundagian ini telah disimpan di Museum Mpu Tantular, Jawa Timur (Jatim). Sejauh ini belum ada temuan di Indonesia yang menyerupai artefak ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Asal-usul dan Lokasi Terkini

Surya Stambha ditemukan secara tidak sengaja di Pulau Sawu, Sabu Raijua, NTT. Artefak ini ditemukan bersama beberapa temuan lain, seperti kapak kabila. Bahan yang digunakan untuk membuat Surya Stambha diperkirakan berasal dari perunggu yang menandakan campuran logam di dalamnya.

Secara ukuran, artefak ini memiliki panjang 150 sentimeter (cm) dengan lebar 30 cm. Bentuk volumenya cenderung pipih. Bagian atas memiliki bentuk seperti jaring dengan ukiran wajah di tengahnya.

Alasan Dinamakan Surya Stambha

Stambha berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti tiang atau kolom. Stambha, dalam konteks arsitektur India, menjadi bangunan yang memiliki fungsi religius dan simbolis. Sering kali didapati adanya tulisan atau elemen religi di bangunan tersebut.

Jika stambha merupakan istilah bangunan atau bentuk yang berasal India, mengapa artefak yang ditemukan di Pulau Sawu dan berasal dari masa prasejarah akhir dinamakan Surya Stambha? Apakah artefak ini juga memiliki fungsi yang sama dengan stambha di India?

Sejauh ini belum ada penjelasan pasti mengenai penamaan dan fungsi benda tersebut. Namun, ada dugaan bahwa benda ini terkait dengan budaya dongson dan lapita.

Budaya Dongson dan Budaya Lapita

Artefak-artefak perunggu masa prasejarah di Indonesia amat terkait dengan kebudayaan dongson. Nama dongson diambil dari situs Dong Son di Vietnam yang di-ekskavasi pada tahun 1924. Kebudayaan ini tersebar mulai dari Vietnam hingga Papua. Ciri budaya ini terdapat pada bahan dan usia yang relatif sezaman. Kebudayaan dongson menjadi bentuk persebaran dan kemajuan teknologi masa tersebut.

Ada pula budaya lapita yang juga tersebar di kawasan Asia Pasifik. Ciri kuat budaya ini adalah seni pada benda tinggalannya. Biasanya berupa titik-titik yang membentuk geometris atau wajah. Budaya lapita mudah ditemui pada masyarakat yang tinggal di area pesisir. Hal ini menandakan jejak persebarannya di masyarakat austronesia.

Kedua budaya ini diduga memiliki pengaruh kuat terhadap Surya Stambha. Sebagai contoh, artefak sezaman juga memiliki ciri yang sama. Nekara Pejeng di Gianyar berasal dari bahan perunggu masa prasejarah. Selain itu, juga terdapat hiasan wajah di Nekara Pejeng yang tampak serupa dengan yang ada di Surya Stambha.

Fungsi Surya Stambha

Masyarakat di kawasan pasifik ternyata memiliki benda dengan bentuk serupa. Terpampang sebuah ilustrasi mengenai orang dari Pulau Marquesas di Pasifik yang memegang benda serupa Surya Stambha. Orang tersebut memiliki posisi yang tinggi dalam hierarki masyarakat. Benda yang dipegangnya adalah bukti status sosial tersebut. Hal ini memungkinkan Surya Stambha memiliki fungsi yang sama meski ditemukan di NTT. Tentu saja dugaan ini perlu ditelaah dan dikaji kembali.




(hsa/hsa)











Hide Ads