Bambu Jajang Diburu Warga untuk Penjor Galungan

Tabanan

Bambu Jajang Diburu Warga untuk Penjor Galungan

Chairul Amri Simabur - detikBali
Selasa, 03 Jan 2023 13:07 WIB
Bambu bahan penjor yang dijual di pinggir Jalan Melati, Banjar Gerokgak Tengah, Desa Delod Peken, Tabanan, Bali. (chairul amri simabur/detikBali)
Bambu bahan penjor yang dijual di pinggir Jalan Melati, Banjar Gerokgak Tengah, Desa Delod Peken, Tabanan, Bali. (chairul amri simabur/detikBali)
Tabanan - Umat Hindu di Bali sedang mempersiapkan berbagai sarana persembahyangan untuk Hari Raya Galungan yang jatuh pada Rabu (4/1/2022). Selain banten, penjor juga menjadi sarana yang wajib disiapkan. Biasanya, penjor akan dipasang pada pintu masuk utama rumah saat sehari sebelum Galungan atau yang disebut sebagai penampahan Galungan.

Penjualan bambu sebagai salah satu bahan utama pembuatan penjor laris manis. Seperti diakui Anak Agung Anom Bayuna Wetan (51) yang berjualan bambu di pinggir Jalan Melati, Banjar Gerokgak Tengah, Desa Delod Peken. Ia sudah mulai berjualan sejak Sabtu (31/12/2022) lalu.

"Biasanya ramai di Minggu dan Senin. Kalau Selasa atau pas penampahan itu sudah mulai berkurang orang yang mencari. Biasanya yang terlambat buat penjor. Itupun tidak seberapa banyak yang mencari bambu," tutur Agung Anom, Senin (2/1/2023).

Ada 2 jenis bambu untuk keperluan penjor yang ia jual. Yang kokoh biasanya bambu petung. Harganya juga relatif mahal. Satu batangnya Rp 60 ribu. Namun, yang paling laris adalah jenis bambu jajang.

"Jenis bambu jajang itu saya jual Rp 35 ribu per batang. Kalau bambu yang ini paling sering dicari. Karena harganya murah meriah," sebut Agung Anom.

Agung Anom rutin menjual bambu untuk pembuatan penjor. Untuk kepentingan Galungan saja, ia biasanya menyiapkan 500 batang bambu. "Tapi penjualan sekarang sudah tidak seperti sebelum pandemi," sebutnya.

Sebelum pandemi COVID-19 terjadi, kata Agung Anom, pada H-4 Galungan ia mampu memperoleh hasil penjualan bambu sampai Rp 2 juta dalam sehari. Jumlah itu akan meningkat di H-3 dan H-2.

"Bisa hampir sampai Rp 5 juta. Tapi kalau sekarang sudah jauh sekali. Dapat Rp 1 juta sehari saja sudah sulit," sebutnya.

Sebagai orang yang sudah lama berkecimpung dalam penjualan bambu, Agung Anom juga telah memprediksi bahwa penjualan bambu untuk Galungan kali ini tidak akan signifikan. Terlebih, tak sedikit pula warga yang memilih menggunakan bambu bekas penjor Galungan sebelumnya.

"Asal Galungannya Desember atau Januari dan Juni atau Juli, orang pasti berpikir untuk beli bambu. Bulan-bulan seperti itu kan anak-anak nantinya akan masuk sekolah. Jadi kalau masih punya bambu yang bisa dipakai, mending mereka pakai yang sudah itu," ujarnya memperkirakan.

Jadi, kata dia, 500 batang bambu yang ia rata-rata ia siapkan menjelang Galungan biasanya akan tersisa. "Habis Galungan tetap saya jual. Kalau tidak begitu, saya tidak balik modal," pungkasnya.


(iws/gsp)

Hide Ads