Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) babak belur pada perdagangan Jumat (16/10/2026). IHSG ditutup anjlok 678,67 poin atau 11,57% ke level 5.185 di tengah sorotan terhadap rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI) menurunkan status pasar modal Indonesia.
Pada pembukaan perdagangan tadi pagi, IHSG juga langsung ambruk ke level 5.393.
Berdasarkan data RTI, nilai transaksi perdagangan hari ini mencapai Rp 31,92 triliun. Sebanyak 68,56 miliar lembar saham diperdagangkan dalam 2.133.155 kali transaksi. Tercatat 775 saham menguat, 10 saham melemah, dan 10 saham stagnan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara mingguan, IHSG turun 14,91%. Sementara itu, secara bulanan IHSG melemah 19,50%. Dalam enam bulan terakhir, IHSG berkurang 25,82%, sedangkan secara year to date (YTD) anjlok 40,04%.
Tekanan terhadap IHSG tak lepas dari pengumuman MSCI yang membuka kemungkinan menurunkan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Langkah tersebut berkaitan dengan kekhawatiran berkelanjutan mengenai aksesibilitas investasi dan tata kelola pasar saham Indonesia.
Rencana penurunan status itu masih dalam tahap konsultasi dengan pelaku pasar. Keputusan final dijadwalkan diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027.
Menanggapi rencana tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan bahwa Standalone Market bukan klasifikasi pasar modal terendah dalam sistem MSCI.
Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi, mengatakan pihaknya mencermati seluruh isu yang menjadi perhatian MSCI. Ia menjelaskan, klasifikasi Standalone Market merupakan kategori khusus bagi pasar modal yang membutuhkan perhatian lebih.
"Nah, perlu diketahui oleh teman-teman bahwa klasifikasi MSCI Standalone Market itu bukan klasifikasi terendah. Itu adalah klasifikasi khusus kalau memang market itu perlu mendapatkan perhatian khusus. Jadi, bukan berarti terendah, bukan berarti Advance, kemudian Emerging, kemudian Frontier, kemudian Standalone. Jadi, nggak seperti itu," ungkap Iding di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Jumat (16/10/2026).