detikBali

MTI Bali Minta Badung Bangun Transportasi Umum Sendiri, Ini Usulannya

Terpopuler Koleksi Pilihan

MTI Bali Minta Badung Bangun Transportasi Umum Sendiri, Ini Usulannya


Putu Yonana Udawananda - detikBali

Ketua MTI Bali I Made Rai Ridharta saat ditemui pada Rabu (26/8/2026).
Ketua MTI Bali I Made Rai Ridharta saat ditemui pada Rabu (26/8/2026). (Foto: Putu Yonata/detikBali)
Denpasar -

Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Bali meminta Pemerintah Kabupaten Badung tidak hanya mengandalkan moda transportasi umum yang sudah ada. Dengan kekuatan fiskal yang dinilai mumpuni, Badung didorong mengembangkan layanan transportasi umum yang dikelola sendiri untuk mengurangi kepadatan kendaraan.

"Kita tahu bahwa Kabupaten Badung memiliki fiskal yang kuat untuk mengembangkan layanan transportasi publik," ungkap Ketua MTI Bali, I Made Rai Ridharta dalam Musyawarah Wilayah MTI Bali di Denpasar, Rabu (26/8/2026).

Saat ini, Kabupaten Badung dilalui moda transportasi Bus Trans Metro Dewata dan Trans Sarbagita. Namun, tambahan moda transportasi umum dinilai masih diperlukan untuk mengurangi kepadatan kendaraan di sejumlah titik di Badung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dorongan tersebut turut disampaikan Rai setelah Pemkab Badung meresmikan Jalan Lingkar Selatan (JLS) segmen 4 sepanjang 10 kilometer dengan anggaran Rp2,9 triliun. Menurutnya, pembangunan jalan seharusnya juga dibarengi peningkatan layanan transportasi umum untuk mengurangi kemacetan.

ADVERTISEMENT

"Belum terlihat secara jelas, dipublikasikan secara luas langkah-langkah untuk peningkatan layanan transportasi publik," imbuhnya.

Rai menyebut Badung idealnya memiliki 8 koridor rute bus tersendiri yang menghubungkan berbagai titik dari selatan hingga utara. Salah satu rute yang dapat dikembangkan yakni dari Bandara I Gusti Ngurah Rai ke Nusa Dua atau Kuta yang seluruhnya masih berada di wilayah Kabupaten Badung.

Rute transportasi umum juga dapat disusun untuk mengakomodasi kebutuhan di utara Badung, seperti Mengwi-Plaga.

Menurut Rai, bus yang digunakan tidak harus berukuran besar. Langkah awal bisa dimulai dengan bus berukuran kecil seperti yang digunakan pada rute shuttle bus di Intaran, Sanur.

"Kalau di Kuta sirkulator pakai yang yang shuttle yang seperti di Sanur itu, mungkin yang listrik," papar dia.



(dpw/dpw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads
LIVE