detikBali

MTI Soroti Ketidakjelasan Lokasi Proyek Bandara Bali Utara

Terpopuler Koleksi Pilihan

MTI Soroti Ketidakjelasan Lokasi Proyek Bandara Bali Utara


Rizki Setyo Samudero - detikBali

Ketua MTI Wilayah Bali I Made Rai Ridharta di Denpasar, Selasa (14/11/2023). (Rizki Setyo Samudero)
Foto: Ketua MTI Wilayah Bali I Made Rai Ridharta di Denpasar. (Dok. Rizki Setyo Samudero)
Denpasar -

Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Bali kembali menyoroti soal ketidakjelasan proyek Bandara Bali Utara yang hingga saat ini belum ada kepastian terkait lokasi pembangunannya. Ketua MTI Bali I Made Rai Ridartha melihat terjadi tarik ulur yang dilakukan oleh para pemangku kebijakan di pusat dan daerah.

Hal itu terlihat ketika Ridartha membaca pemberitaan rapat teknis yang dihadiri Gubernur Bali Wayan Koster, Kepala Staf Presiden Jenderal TNI (Purn Dudung Abdurachman, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo dan Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investasi Khusus (Bappisus) Aries Marsudyanto di Jakarta beberapa waktu lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hasil dari rapat tersebut, salah satu usulannya adalah pemerintah akan memfokuskan pengembangan bandara Letkol Wisnu di Gerokgak, Buleleng, karena dinilai lebih efektif pengembangan di sisi barat Buleleng dibandingkan pembangunan bandara baru di sisi timur Buleleng.

Sedangkan, pada saat Presiden Prabowo Subianto menjadi calon presiden kala itu memantapkan bahwa pembangunan Bandara Bali utara di sisi timur Buleleng dan ingin menyamakan dengan seperti di Hongkong maupun daerah lainnya.

ADVERTISEMENT

"Tentu perbedaan pendapat antara pejabat-pejabat di pemerintah pusat ini perlu diluruskan dahulu apalagi terkait dengan adanya Perpres 12 Tahun 2025 itu," kata Rai kepada detikBali, Minggu (2/8/2026).

Pada dasarnya, lanjut Rai, lokasi pembangunan bandara Bali Utara akan mempengaruhi pengembangan infrastruktur akses dari selatan menuju utara. Oleh karena itu, ia mempertanyakan kepastian lokasinya berada di sisi mana.

"Dan ini belum ada akses langsung yang benar-benar ditujukan untuk menghubungkan antara dua bandara ini atau setidaknya dua wilayah ini. Jika hanya mengandalkan jaringan jalan yang ada saat ini tentu akan menimbulkan kesulitas terutama dari sisi kepastian waktu tempuh," jelasnya.

Rai melihat di RPJMN bahwa jalan yang akan dibangun dari wilayah selatan menuju utara dengan trase jalur Kintamani karena pada RPJMN telah ditentukan bandara Bali utara dibangun di sisi timur Buleleng yakni di Kubutambahan.

"Bukan sebagaimana yang dijelaskan akan berada di sisi barat, baik itu pembangunan bandara baru ataupun pengembangan operasional dari bandara Letkol Wisnu yang sekarang sudah ada," beber Rai.

MTI, lanjut Rai, ingin mendapatkan kepastian sebagai bagian dari masyarakat yang fokus pada transportasi. Termasuk soal siapa investor yang akan mengambil proyek pembangunan bandara ini.

"Bagi kami siapapun yang membangun ini tentu harus ada kepastiannya kapan ini dibangun, lokasinya di mana, kemudian bagaimana penghubungnya, akses penghubung jalannya yang mana akan diambil apakah masih tetap pada lintasan di RPJMN atau membuat trase lainnya," tutur Rai.

Rai memandang hal ini penting dilakukan agar tidak terjadi simpang siur tentang pembangunan bandara ini. Penentuan lokasi akan bergantung pada minat dari investor karena pembangunan bandara dipastikan tidak menggunakan APBN maupun APBD.

"Ini penting untuk ditetapkan tidak saja didasarkan atas perkiraan-perkiraan tetapi diharapkan adalah pemimpin tertinggi yang menetapkan ini segera memastikan di mana bandaranya, siapa yang akan membangun dan tentunya akan sangat berpengaruh kepada siapapun baik masyarakat maupun pada investor," tandas Rai.



(hsa/hsa)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads