detikBali

Ekonomi NTB Tumbuh 7,41 Persen, Pertambangan Jadi Motor Penggerak

Terpopuler Koleksi Pilihan

Ekonomi NTB Tumbuh 7,41 Persen, Pertambangan Jadi Motor Penggerak


Nathea Citra - detikBali

Perusahaan tambang tembaga dan emas, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN)
Ilustrasi pertambangan. (Foto: Dok. AMMAN)
Mataram -

Ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada triwulan II 2026 tumbuh 7,41 persen. Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mencatat pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh melonjaknya kinerja sektor pertambangan, yang diikuti industri pengolahan dan pengadaan air.

"Pertanian, pertambangan, dan perdagangan merupakan tiga sektor dengan share terbesar terhadap perekonomian Provinsi NTB. Ada tiga lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi, yakni pertambangan, industri pengolahan, dan pengadaan air," kata Kepala BPS NTB Wahyudin usai rilis di kantornya, Rabu (5/8/2026).

Menurut Wahyudin, lapangan usaha pertambangan dan penggalian menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi NTB dengan pertumbuhan mencapai 30,57 persen (yoy).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kinerja lapangan usaha ini didukung oleh peningkatan produksi konsentrat tembaga sejalan dengan relaksasi ekspor konsentrat tembaga sampai dengan April 2026," ujarnya.

ADVERTISEMENT

"Sementara lapangan usaha industri pengolahan juga mencatat pertumbuhan yang tinggi, yakni sebesar 7,45 persen. Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan aktivitas smelter, serta peningkatan produksi industri makanan dan minuman untuk memenuhi permintaan program MBG," sambung Wahyudin.

Lapangan usaha pertambangan dan penggalian mencatat pertumbuhan tertinggi pada triwulan II 2026, yakni 30,57 persen. Posisi berikutnya ditempati industri pengolahan sebesar 7,45 persen dan pengadaan air 6,52 persen.

Selanjutnya, jasa keuangan tumbuh 5,69 persen, akomodasi dan makan minum 4,86 persen, administrasi pemerintahan 4,68 persen, perdagangan 4,33 persen, serta jasa pendidikan 4,22 persen.

Adapun jasa lainnya tumbuh 3,49 persen, pengadaan listrik dan gas 3,39 persen, konstruksi 3,14 persen, informasi dan komunikasi 2,93 persen, jasa perusahaan 2,88 persen, transportasi dan pergudangan 2,83 persen, pertanian 2,54 persen, real estat 2,49 persen, serta jasa kesehatan 2,38 persen.

"Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2026 terutama didorong oleh komponen ekspor barang dan jasa yang tumbuh signifikan sebesar 49,42 persen (y-on-y)," ungkapnya.

Berdasarkan PDRB pengeluaran, ekspor barang dan jasa menjadi komponen dengan pertumbuhan tertinggi, yakni 49,42 persen. Disusul impor barang dan jasa 26,82 persen, konsumsi pemerintah 8,21 persen, konsumsi rumah tangga 3,72 persen, konsumsi LNPRT 2,32 persen, serta pembentukan modal tetap bruto (PMTB) 1,51 persen.

"Pertumbuhan ini disebabkan oleh peningkatan nilai ekspor komoditas pertambangan dan hasil industri pengolahan yang didukung oleh optimalisasi aktivitas smelter. Serta adanya kebijakan relaksasi ekspor konsentrat tembaga sejak November 2025 hingga April 2026," tandasnya.



(dpw/dpw)









Hide Ads