PT Bank Pembangunan Daerah Bali (Bank BPD Bali) berhasil mempertahankan tren kinerja keuangan yang positif dan solid pada triwulan II-2026. Tak hanya itu, BPD Bali juga naik kelas dan masuk ke dalam jajaran Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) 2.
Direktur Utama Bank BPD Bali, I Nyoman Sudharma, menjelaskan keberhasilan ini dicapai setelah modal inti bank menembus angka di atas Rp 6 triliun. Adapun, modal inti Bank BPD Bali saat ini mencapai Rp 6,064 triliun sehingga memenuhi ketentuan regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
"Kenaikan kelas menjadi KBMI 2 ini didorong oleh penguatan permodalan yang konsisten dari setoran modal Pemerintah Daerah selaku pemegang saham hingga mencapai Rp 3,63 triliun pada Juni 2026," ujar Sudharma dalam keterangannya, Senin (20/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari sisi kinerja, dia berujar, Bank BPD Bali berhasil mencatatkan indikator keuangan yang impresif dengan aset bank mencapai Rp 42,74 triliun sepanjang paruh pertama tahun 2026. Angka tersebut meningkat 5,75 persen secara tahunan (yoy) dibandingkan dengan Juni 2025 sebesar Rp 40,41 triliun.
Sementara dari sisi pendanaan, Bank BPD Bali telah menghimpun dana dengan total capaian sebesar Rp 35,05 triliun. Meningkat 3,88 persen dibandingkan pada Juni 2025 sebesar Rp 33,74 triliun.
"Pendanaan bank masih didominasi oleh porsi dana murah (CASA) yang mencapai 65,31 persen dari total portofolio dana pihak ketiga," kata Sudharma.
Sudharma menerangkan pertumbuhan positif dana pihak ketiga didorong oleh keberhasilan transformasi digital melalui penguatan kanal e-banking yang berfokus pada kemudahan akses, keamanan, dan kenyamanan nasabah dalam bertransaksi. Termasuk penguatan ekosistem melalui integrasi pembayaran dengan berbagai fasilitas layanan masyarakat seperti rumah sakit, daerah tujuan wisata (DTW), hingga berbagai institusi pendidikan.
"Melalui inovasi layanan digital, Bank BPD Bali juga melakukan penguatan aspek Teknologi Informasi (TI), pengelolaan security dan keamanan siber serta data privacy yang terus ditingkatkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku," imbuhnya.
Sudharma menegaskan hal tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh inovasi layanan Bank BPD Bali memiliki tingkat keamanan yang baik. Misalkan pengembangan BPD Bali Mobile, QRIS Tuntas Bank BPD Bali, QRIS Mobile NFC, pengembangan KKI online payment, hingga QRIS Crossborder ke berbagai negara (Thailand, Malaysia, Singapura dan Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan).
"Saat ini Bank BPD Bali masih dalam proses perluasan pengembangan fitur QRIS Tap NFC Single Tap dan Double Tap pada aplikasi BPD Bali Mobile, serta pengembangan API QRIS Tap untuk memperluas akseptansi layanan QRIS Tap Bank BPD Bali dengan mitra bank," ujarnya.
Perkuat UMKM
Hingga akhir triwulan II-2026, Bank BPD Bali telah menyalurkan kredit sebesar Rp 25,85 triliun atau tumbuh sebesar 7,08 persen. Kualitas aset tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) yang rendah di level 0,94 persen dan NPL Nett sebesar 0,03 persen.
Menurut Sudharma, hal itu mencerminkan penerapan manajemen risiko yang prudent. Ia menuturkan pembiayaan perseroan menempatkan sektor produktif dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai prioritas utama.
"Realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga Juni 2026 tercatat sebesar Rp1,17 triliun, 64,55 persen menuju target akhir tahun sebesar Rp1,8 triliun," tutur Sudharma.
Secara keseluruhan, dia melanjutkan, agregat penyaluran KUR Bank BPD Bali telah menyentuh Rp 11,45 triliun. Penyaluran ini didominasi pembiayaan untuk UMKM dengan pendekatan inklusif, 73,31 persen dialokasikan kepada debitur baru.
Bank BPD Bali juga menyiapkan produk KUSUMA (Kredit Usaha untuk Sejahtera, Unggul dan Maju) sebagai dukungan penguatan UMKM naik kelas. Hingga triwulan II-2026, program telah terealisasikan sebesar Rp1,72 triliun dengan outstanding sebesar Rp 1,40 triliun.
Selain mendukung UMKM, pembiayaan juga diarahkan ke sektor-sektor prioritas yang mendukung kemandirian lokal. Misalkan sektor pertanian, kelautan, serta industri perajin di wilayah Bali.
"Langkah strategis penyaluran pembiayaan tersebut sejalan dengan visi pembangunan ekonomi yang berpusat pada Ekonomi Kerthi Bali, yang bertujuan mewujudkan kemandirian ekonomi daerah yang harmonis dengan alam, budaya, dan kearifan lokal," ujar Sudharma.
Dia menjelaskan visi ini dijalankan melalui dukungan terhadap dua misi utama untuk mentransformasikan struktur ekonomi Bali. Pertama, transformasi melalui Ekonomi Kerthi Bali dengan menciptakan pertumbuhan ekonomi inklusif lewat pengembangan pusat-pusat perekonomian baru yang disesuaikan dengan potensi masing-masing wilayah kabupaten/kota di Bali.
Kedua, mendorong ketahanan ekonomi berbasis kearifan lokal dengan mengembangkan sektor unggulan berdaya saing tinggi. Hal ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada pariwisata massal dan menciptakan ekonomi yang lebih tangguh terhadap guncangan eksternal.
Berikutnya, Bank BPD Bali juga telah menyalurkan Kredit Program Perumahan (KPP) sebesar Rp135,27 miliar dari pagu tahun 2026 sebesar Rp234 miliar. Hal itu merupakan upaya mendukung program pemerintah untuk sektor perumahan.
Jalin Sinergi dengan Kelembagaan Lokal
Sudharma menjelaskan Bank BPD Bali juga menerapkan pendekatan kluster dan menjalin sinergi erat dengan kelembagaan lokal sebagai. Termasuk menggandeng Lembaga Perkreditan Desa (LPD) di berbagai desa adat, koperasi, serta Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai mitra penyalur sekaligus pembeli siaga (offtaker) bagi hasil produksi masyarakat.
"Efektivitas dari fungsi intermediasi dan strategi efisiensi yang telah dilakukan, Bank BPD Bali berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 755,75 miliar atau meningkat sebesar 17,67 persen dibandingkan periode yang sama pada Juni 2025 sebesar Rp 642,28 miliar," ujar Sudharma.
Menurutnya, rasio keuangan juga terjaga dengan baik. Ia merincikan Rasio KPMM/CAR sebesar 30,99 persen, ROA sebesar 4,22 persen, ROE sebesar 26,39 persen, NIM sebesar 5,89 persen, NPL Gross sebesar 0,94 persen, dan BOPO sebesar 58,86 persen.
Selain itu, Bank BPD Bali telah menerima Sertifikat Rekognisi Penerapan Manajemen Risiko Berbasis ISO 31000:2018 dengan predikat "Baik/Matang" (Good/Mature Level) yang diserahkan langsung oleh oleh Chairman PT Leadership Nasional Asia (LNA) di Kantor Pusat Bank BPD Bali pada 19 Juni lalu. Ia menyebut sertifikat tersebut sebagai wujud nyata komitmen dalam melaksanakan tata kelola perusahaan yang baik atau GCG (Good Corporate Governance).
"Secara industri, penerapan standar ISO 31000 memberikan kerangka kerja sistematis bagi institusi perbankan untuk memitigasi potensi risiko secara proaktif-mulai dari risiko kredit, operasional, hingga risiko siber," kata Sudharma.
"Bagi nasabah dan pemangku kepentingan, sertifikasi ini menjadi jaminan ketahanan tinggi bank terhadap fluktuasi ekonomi yang berbanding lurus dengan peningkatan kualitas layanan, ekspansi kredit yang lebih sehat, dan inovasi layanan digital yang aman," imbuhnya.
Bank BPD Bali, dia berujar, juga proaktif menggelar 324 kegiatan edukasi dan literasi keuangan. Misalkan melalui program Goes to Banjar, Goes to School, Goes to Campus, hingga literasi yang dikhususkan bagi Calon Pekerja Migran Indonesia (PMI), Aparatur Sipil Negara (ASN), dan pensiunan.
Berbagai kegiatan tersebut bahkan telah menjangkau 22.069 peserta yang berasal dari seluruh lapisan masyarakat. Hal itu dilakukan dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memahami dan mengelola keuangan secara efektif.
(iws/iws)