Dolar Amerika Serikat (AS) yang makin perkasa terhadap rupiah di tengah ketidakpastian geopolitik global menjadi tantangan bagi sektor pertanian. Di tengah kondisi tersebut, pelaku industri pertanian menyoroti meningkatnya biaya produksi yang dirasakan petani serta perlambatan adopsi teknologi.
APAC Agriculture Policy Program Manager Corteva Agriscience, Suandi Tanuwijanto, mengatakan tantangan yang dihadapi petani tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga secara global. Salah satunya adalah meningkatnya ongkos produksi yang harus ditanggung petani.
"Jadi hanya saja mungkin bagi petani di seluruh Indonesia, tidak hanya di Indonesia sebenarnya, secara global juga merasakan dampaknya dengan kenaikan harga ongkos produksinya mereka," ujarnya dalam acara US-ASEAN Business Council di Kuta, Badung, Kamis (4/6/2026).
Suandi menjelaskan kenaikan tersebut terjadi pada berbagai kebutuhan pertanian, mulai dari pupuk, benih, hingga bahan pendukung pertanian seperti plastik.
"Jadi misalnya harga harga pupuk naik, kemudian harga benih naik, kemudian harga input pertanian yang lain juga. Sederhana misalnya karena pengaruh minyak harga minyak itu plastik juga harganya naik, itu bagi petani juga cukup dirasakan gitu ya kenaikannya," jelasnya.
Kenaikan biaya produksi tersebut, ia menyoroti, pada akhirnya tidak hanya berdampak pada petani, tetapi juga berpotensi memengaruhi harga yang harus dibayar konsumen.
Selain menghadapi kenaikan biaya produksi, sektor pertanian juga sempat mengalami perlambatan dalam adopsi teknologi. Meski demikian, sektor ini tetap bertahan karena menjadi penyedia kebutuhan pangan masyarakat.
"Jadi kalau di pertanian, dan ini juga berkaca kepada kondisi COVID kemarin memang ada sedikit perlambatan di dalam adopsi teknologi. Bahkan justru kemarin pada saat pandemi salah satu sektor yang tetap terus jalan itu ya pertanian, karena kita tetap butuh makan," ungkapnya.
Suandi menilai adopsi teknologi tetap penting untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi sektor pertanian. Karena itu, industri input pertanian terus menyesuaikan inovasi dengan kondisi pasar serta kemampuan petani dalam mengadopsi teknologi baru.
"Tetapi kami di industri input pertanian kita menyesuaikan sih seperti apa pasar, dan kita juga menyesuaikan sejauh mana petani bisa mengadopsi teknologi baru karena bagaimanapun teknologi kan tetap terus berkembang," katanya.
Menurut Suandi, pemanfaatan teknologi baru dapat membantu petani meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi usaha tani di tengah berbagai tantangan yang dihadapi sektor pertanian.
"Justru dengan mereka adopsi teknologi baru itu akan sangat membantu mereka dari sisi produktivitas, kemudian efisiensi," imbuhnya.
Simak Video "Video: Efek Domino Rupiah yang Melemah"
(hsa/iws)