Rupiah Melemah, Petani Cirebon Menjerit Harga Pestisida Melejit

Rupiah Melemah, Petani Cirebon Menjerit Harga Pestisida Melejit

Devteo Mahardika - detikJabar
Senin, 18 Mei 2026 17:30 WIB
Petani saat garap lahan pertanian di Kabupaten Cirebon
Petani saat garap lahan pertanian di Kabupaten Cirebon. Foto: Devteo Mahardika/detikJabar
Cirebon -

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dirasakan hingga ke area persawahan di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Dampaknya kini menghantam para petani yang harus menghadapi lonjakan harga pestisida hingga perlengkapan pertanian berbahan plastik.

Di tengah hamparan sawah Desa Tegalkarang, Kecamatan Palimanan, Senin (18/5/2026), seorang petani bernama Rojai (51) tetap menanam bibit padi meski biaya produksi terus membengkak akibat kenaikan harga kebutuhan pertanian. Menurut Rojai, kenaikan paling terasa terjadi pada berbagai jenis pestisida, mulai dari herbisida, insektisida hingga fungisida.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Baik herbisida, insektisida ataupun fungisida itu rata-rata naik antara Rp5.000 sampai Rp10.000 per botol ukuran satu liter," ujar Rojai di sela aktivitasnya di sawah.

Ia menjelaskan, kenaikan harga dipicu mahalnya bahan baku impor dan kemasan plastik yang terdampak pelemahan rupiah terhadap dolar AS. "Saya tanya ke kios, katanya kenaikan pertama dari harga plastik atau bungkus pestisida. Kedua, sebagian bahan aktif pestisida masih impor, jadi berpengaruh karena dolar naik, rupiah melemah," katanya.

ADVERTISEMENT

Tak hanya pestisida, perlengkapan pertanian berbahan plastik juga ikut melonjak tajam. Salah satunya selang air untuk kebutuhan pompanisasi sawah yang kini banyak dicari petani menjelang musim kemarau.

"Selang untuk pompanisasi itu naiknya sampai 50 persen," ungkapnya.

Kondisi tersebut membuat biaya operasional pertanian meningkat dan berdampak langsung terhadap pendapatan petani. Meski harga gabah saat ini cukup baik, kenaikan itu belum mampu menutup membengkaknya biaya produksi.

"Harga gabah sekarang Rp7.400 sampai Rp7.800 per kilogram, memang di atas harga serapan Bulog Rp6.500. Tapi biaya budidaya tanaman padi juga naik, jadi pendapatan tetap berkurang," jelasnya.

Di tengah tekanan biaya, para petani tetap tidak bisa mengurangi penggunaan pestisida karena ancaman Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) masih tinggi, terutama saat cuaca tidak menentu.

"Sekarang lagi banyak hama tikus, ada juga penggerek batang dan wereng. Jadi memang perlu penanganan menggunakan pestisida," katanya.

Untuk menekan pengeluaran, petani di Desa Tegal Karang mulai mencoba menggunakan pestisida organik sebagai alternatif pengganti pestisida kimia impor.

Rojai yang juga Ketua Gapoktan Tani Makmur Desa Tegal Karang mengatakan, petani mulai memanfaatkan bahan-bahan alami di sekitar lingkungan untuk membuat pestisida sendiri.

"Kami mulai mengombinasikan pestisida organik supaya bisa menekan biaya produksi," ujarnya.

Menurutnya, hasil penggunaan pestisida organik sejauh ini cukup efektif dan tidak jauh berbeda dibanding pestisida kimia.

"Alhamdulillah hasilnya sama juga. Ini salah satu cara kami bertahan di tengah mahalnya pestisida kimia," ucapnya.

Sementara itu, pelayan toko kebutuhan pertanian di Desa Tegalkarang, Deni Apriliani (29), membenarkan hampir seluruh produk pestisida mengalami kenaikan harga dalam satu bulan terakhir. "Yang tadinya saya jual Rp50 ribu sekarang jadi Rp60 ribuan. Kenaikannya sekitar Rp5 ribu sampai Rp10 ribu," kata Deni.

Ia menyebut kenaikan dipicu mahalnya bahan baku kemasan plastik dan bahan aktif impor. "Naiknya dari bahan baku botol sama bahan aktif yang masih impor," jelasnya.

Kenaikan paling drastis, lanjut Deni, terjadi pada selang air pertanian.

"Selang air naik hampir 50 persen. Dari tadinya Rp90 ribu sekarang jadi Rp180 ribuan," ujarnya.

Meski harga terus melonjak, kebutuhan pertanian membuat petani tetap membeli barang-barang tersebut.

"Karena memang butuh, jadi mahal-murah juga tetap dibeli," katanya.

Deni mengaku banyak petani mengeluhkan kondisi tersebut sejak rupiah terus melemah terhadap dolar AS.

"Mengeluh banget. Semenjak krisis global ini sangat berpengaruh," ucapnya.

Fenomena mulai terasa dampaknya pelemahan rupiah di desa-desa pertanian Cirebon ini muncul di tengah viralnya pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang sempat menyebut orang desa enggak pakai dolar saat menanggapi pelemahan rupiah beberapa waktu lalu.

Namun di lapangan, pelemahan rupiah justru dirasakan langsung oleh para petani melalui naiknya harga barang impor seperti pestisida, plastik, hingga perlengkapan pertanian lainnya.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads