detikBali

Harga Minyak Goreng Tembus Rp 23 Ribu di Mataram, Warga Ngeluh

Terpopuler Koleksi Pilihan

Harga Minyak Goreng Tembus Rp 23 Ribu di Mataram, Warga Ngeluh


Nathea Citra - detikBali

Big plastic bottle of olive oil in the hand of the buyer at the grocery store
Ilustrasi minyak goreng. (Foto: Getty Images/iStockphoto/sergeyryzhov)
Mataram -

Harga minyak goreng kemasan di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), melonjak hingga Rp 23 ribu per liter dalam beberapa pekan terakhir. Kenaikan ini langsung dikeluhkan warga karena selisihnya terasa signifikan saat berbelanja.

"Biasanya sih harganya per liter itu Rp 19 ribu sampai Rp 20 ribu per liter. Tapi tadi bayar Rp 23 ribuan per liter," kata Sherly, salah seorang warga Mataram pada detikBali, Jumat (17/4/2026).

Keluhan serupa disampaikan Dinda, warga Mataram lainnya. Ia menyebut harga minyak premium naik dari kisaran Rp 39 ribu hingga Rp 40 ribu per dua liter menjadi Rp 44 ribu hingga Rp 45 ribu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Lumayan tinggi naiknya," ucapnya.

ADVERTISEMENT

Kepala Bidang Bahan Pokok dan Penting (Bapokting) Disdag Mataram, Sri Wahyunida, membenarkan kenaikan harga minyak goreng premium tersebut. Ia menyebut lonjakan terjadi dalam tiga pekan terakhir.

"Memang terjadi kenaikan untuk harga minyak goreng, khususnya yang premium. Kenaikannya sekitar Rp 1.800 sampai Rp 3.000 per liter, untuk beberapa brand," kata Nida.

Pihaknya masih menelusuri penyebab kenaikan harga tersebut dan berkoordinasi dengan pemerintah provinsi.

"Kita sedang lakukan pemantauan untuk mengetahui penyebabnya. Untuk sementara kami akan berkoordinasi dengan provinsi, terkait penyebab kenaikan harga minyak ini. Mungkin dari provinsi (bisa) melakukan koordinasi dengan pusat, apakah kenaikan ini dampak dari kenaikan harga plastik atau memang ada kendala dari sistem pendistribusian, itu yang belum kami koordinasikan," ungkapnya.

"Dari sisi lapangan, kami akan terus berkoordinasi dengan distributor," sambungnya.

Di tengah kenaikan harga minyak premium, Nida memastikan stok MinyaKita masih tersedia, meski distribusinya diprioritaskan ke pasar tradisional.

"Kalau dari stok minyak premium kami lihat masih ada di ritel. Sementara kalau MinyaKita pendistribusiannya masih tetap dari Bulog ke pasar-pasar tradisional. Kemarin kami turun ke ritel, untuk MinyaKita masih kosong, tapi yang diutamakan untuk di pasar-pasar tradisional dulu," tandasnya.



(dpw/dpw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads