Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Februari 2026 meningkat US$ 63,70 juta atau naik 774,25 persen dibandingkan Februari 2025. Peningkatan ini didorong oleh kenaikan ekspor komoditas non-tambang, terutama tembaga dan perak.
"Secara year on year, nilai ekspor NTB pada Februari 2026 meningkat dibandingkan Februari 2025. Peningkatan ini didorong oleh kenaikan ekspor komoditas non-tambang, terutama tembaga dan perak yang merupakan hasil industri smelter," kata Kepala BPS NTB Wahyudin, saat konferensi pers di kantornya, Rabu (1/4/2026).
Wahyudin merinci komoditas ekspor terbesar pada Februari 2026 didominasi tembaga sebesar US$ 37 juta atau 59 persen dari total ekspor. Disusul perhiasan/permata US$ 23 juta (36,19 persen), ikan dan udang US$ 2,4 juta (3,91 persen), garam, belerang, dan kapur US$ 232 ribu (0,36 persen), serta daging dan ikan olahan US$ 163 ribu (0,26 persen).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikutnya produk hewani US$ 69 ribu (0,11 persen), biji-bijian berminyak US$ 28 ribu (0,04 persen), buah-buahan US$ 11 ribu (0,02 persen), barang kiriman US$ 9 ribu (0,02 persen), dan komoditas lainnya US$ 6 ribu (0,01 persen).
Wahyudin menjelaskan komoditas tembaga menjadi ekspor terbesar dengan tujuan negara Thailand, Vietnam, dan Tiongkok. Disusul kelompok perhiasan/permata ke Uni Emirat Arab, Hongkong, dan Australia. Sedangkan ekspor kelompok ikan dan udang ditujukan ke Amerika Serikat, Kanada dan Singapura.
"Berdasarkan tujuan negara, Thailand menjadi negara tujuan dengan nilai ekspor terbesar yakni US$ 24 juta atau 38 persen. Disusul negara kedua tertinggi ada Uni Emirat Arab dengan nilai US$ 19 juta (30,59 persen), Tiongkok US$ 5,4 juta (8,56 persen)," urai Wahyudin.
"Kemudian ada Vietnam US$ 5,2 juta (8,29 persen), Amerika Serikat dengan nilai US$ 2,5 juta (3,97 persen), dan negara lainnya US$ 6 juta (9,93 persen)," sambungnya.
Di sisi lain, BPS NTB mencatat nilai impor pada Februari 2026 justru mengalami penurunan sebesar 58,72 persen dibandingkan Februari 2025. Penurunan ini terutama disebabkan oleh penurunan impor bahan baku/penolong, khususnya pada kelompok karet dan barang dari karet.
Adapun, komoditas impor terbesar berupa mesin-mesin atau pesawat mekanik sebesar US$ 4 juta atau 72 persen. Disusul kendaraan dan bagiannya US$ 888 ribu (15 persen), bahan bakar mineral US$ 436 ribu (7,65 persen), mesin atau peralatan listrik US$ 109 ribu (1,92 persen), benda-benda dari besi dan baja US$ 33 ribu (0,60 persen).
"Nilai impor NTB pada Februari 2026 terbesar berasal dari Tiongkok dengan nilai US$ 2,7 juta atau sekitar 47 persen, kemudian disusul Finlandia US$ 1,1 juta (20 persen), Amerika Serikat US$ 880 ribu (15 persen), Singapura US$ 571 ribu (10 persen), Australia US$ 379 ribu atau sekitar 6,65 persen," pungkasnya.
(iws/iws)










































