Komoditas cabai rawit menjadi penyumbang inflasi tertinggi di Provinsi Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB) pada periode Maret 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali bahkan mencatat dalam tiga tahun terakhir cabai rawit selalu mengalami inflasi pada Maret.
"Secara historis, cabai rawit itu memang selalu mengalami inflasi di bulan Maret," ujar Kepala BPS Provinsi Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan saat konferensi pers di Denpasar, Rabu (1/4/2026).
Pada Maret 2026, cabai rawit mengalami inflasi tertinggi sebesar 15,98 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Agus menyebutkan kenaikan harga cabai rawit dipengaruhi oleh tingginya permintaan serta produksi yang rendah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi, kalau misalnya ingin menanam cabai rawit ya sebelum bulan Maret biar bisa panen bulan Maret. Tapi, dengan catatan panennya berhasil," imbuhnya.
BPS Bali juga mencatat mencatat inflasi bulanan (month-to-month) pada Maret 2026 sebesar 0,56 persen dibandingkan Februari 2026. Kondisi ini dinilai wajar karena adanya berbagai hari raya yang jatuh pada bulan tersebut.
"Memang di bulan Maret karena berbagai faktor tadi, seperti hari raya yang memang jatuh di bulan itu kecenderungannya terjadi inflasi. Dalam tiga tahun terakhir selalu terjadi inflasi yang relatif tinggi," imbuhnya.
Agus membeberkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi pada Maret dengan kenaikan sebesar 1,08 persen dan andil 0,36. Disusul kelompok transportasi yang naik 0,70 persen (andil 0,07), perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga naik 0,49 persen (andil 0,07), serta perawatan pribadi dan jasa lainnya naik 0,56 persen (andil 0,05).
Sedangkan, enam komoditas teratas yang mendukung inflasi pada Maret 2026 antara lain cabai rawit dengan andil 0,11 dan inflasi tertinggi sebesar 15,98 persen. Disusul cabai merah yang mengalami inflasi 13,54 persen dengan andil 0,03 persen, dan bensin naik sebesar 1,28 persen dengan andil 0,06 persen.
Ada pula tarif air minum PAM mengalami inflasi sebesar 2,58 persen dengan andil 0,05, daging babi sebesar 2,55 persen dengan andil 0,02 persen. Disusul angkutan antarkota yang mengalami inflasi sebesar 20,99 persen dan andil 0,02 persen.
Cabai Rawit di NTB Masih Mahal
Sementara itu, laju pergerakan harga komoditas di NTB juga mengalami inflasi 0,81 persen pada Maret 2026. Harga cabai rawit yang tak kunjung turun jadi salah satu pemicu utama inflasi kali ini.
Kepala BPS NTB, Wahyudin, menuturkan inflasi Maret 2026 ini didorong oleh peningkatan harga pada kelompok bahan makanan. Khususnya pada komoditas cabai rawit, kol, daging ayam, tomat, hingga terong.
"Peningkatan harga tersebut dipicu oleh terbatasnya pasokan. Kondisi ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya konsumsi masyarakat selama bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri. Permintaan masyarakat cenderung meningkat, sehingga mendorong kenaikan harga bahan pangan di pasaran," kata Wahyudin, saat konferensi pers di Mataram, Rabu.
"Cabai rawit memberi andil inflasi 0,14 persen," sambungnya.
Selain cabai rawit, sejumlah komoditas lain juga turut memberikan andil inflasi di NTB pada Maret 2026. Komoditas tersebut antara lain, kol putih/kubis 0,12 persen, daging ayam ras 0,09 persen, tomat 0,05 persen, dan terong 0,04 persen.
"Komoditas lain yang turut memberikan andil signifikan terhadap inflasi ialah bensin dan tarif angkutan antarkota. Pada Maret 2026 terjadi kenaikan harga bahan bakar bermotor, khususnya jenis Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex," imbuh Wahyudin.
Sementara itu, dia melanjutkan, kenaikan tarif angkutan antarkota dipengaruhi oleh tingginya permintaan selama arus mudik di dalam provinsi. Misalkan rute Kota Mataram menuju Kabupaten Sumbawa, Dompu, dan Kota Bima.
Di sisi lain, BPS juga mencatat beberapa komoditas yang mengalami deflasi pada Maret 2026. Komoditas yang mengalami penurunan harga tersebut antara lain ikan teri 0,05 persen, angkutan udara 0,05 persen, ikan layang 0,03 persen, angkutan sungai 0,01 persen, serta jeruk 0,01 persen.
"Penurunan tarif tersebut merupakan dampak dari kebijakan subsidi angkutan yang diberikan pemerintah selama periode Hari Raya Idul Fitri," tuturnya.
Dari sisi wilayah, inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Sumbawa sebesar 0,91 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 112,62. Disusul Kota Mataram 0,85 persen dengan IHK 112,22. Sementara itu, Kota Bima mencatat inflasi 0,29 persen dengan IHK 112,38.
"Terjadi inflasi di seluruh wilayah kabupaten/kota, pada bulan Maret 2026," ungkapnya.
Wahyudin lantas menjelaskan sejumlah komoditas yang memberikan andil besar terhadap inflasi di wilayah IHK NTB. Komoditas tersebut di antaranya cabai rawit, daging ayam ras, emas, bawang merah, ikan tongkol, kol putih, tomat, terong, ayam hidup, udang basah, dan ikan kakap merah.
(iws/iws)










































