Hasil panen jagung Kelompok Tani Leseng Dua di Kampung Leseng, Dusun Look, Desa Golo Mori, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), tahun ini menurun akibat diserang monyet dan tikus. Curah hujan tak stabil juga mengurangi hasil panen jagung hibrida jenis NK Sakti tersebut.
"Tahun ini tantangannya cukup berat bagi kami. Intensitas curah hujan yang tidak stabil sangat memengaruhi pertumbuhan bulir jagung," ungkap Ketua Kelompok Tani Leseng Dua, Muhamad Bahudin dalam keterangan tertulis, Minggu (22/3/2026) malam.
"Belum lagi gangguan hama tikus dan monyet yang cukup masif musim ini," lanjut dia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Panen jagung pada lahan seluas tiga hektare itu dilakukan pada Minggu (22/3/2026). Hasil panen hanya sekitar 17,74 ton. Jumlah tersebut menurun dari tahun lalu sebanyak 25 ton. Kelompok tani yang menggarap lahan tersebut terdiri dari 16 orang.
Panen jagung itu melibatkan personel Polsek Komodo dan Bagian SDM Polres Manggarai Barat. Polisi mengklaim kehadiran mereka dalam kegiatan panen jagung itu sebagai bentuk pengawalan program swasembada pangan.
"Kehadiran kami di sini bukan sekadar seremonial, melainkan bentuk dukungan moral dan fisik kepada para pejuang pangan kita. Kami ingin memastikan bahwa program swasembada pangan mendapat pengawalan yang maksimal hingga ke tingkat desa," kata Kapolsek Komodo AKP Eka Dharma Yudha.
Eka mengatakan kepolisian akan memantau distribusi hasil panen agar tidak terhambat aksi spekulan. Ini bertujuan agar petani tidak rugi saat panen.
"Keberhasilan program swasembada bukan hanya soal hasil panen di ladang, tapi juga bagaimana distribusi dan harga di pasar tetap stabil. Hal ini krusial agar petani tidak merugi saat hasil panen turun seperti sekarang. Kesejahteraan petani adalah kunci ketahanan pangan yang berkelanjutan," tandas Eka.
(hsa/hsa)










































