detikBali

Pedasnya Harga Cabai Rawit Jadi Pemicu Inflasi di NTB

Terpopuler Koleksi Pilihan

Pedasnya Harga Cabai Rawit Jadi Pemicu Inflasi di NTB


Nathea Citra - detikBali

Pedagang cabai di Pasar Mandalika, Kota Mataram, beberapa waktu lalu.
Foto: Pedagang cabai di Pasar Mandalika, Kota Mataram, beberapa waktu lalu. (Nathea Citra/detikBali)
Mataram -

Laju pergerakan harga konsumen di Nusa Tenggara Barat (NTB) tercatat mengalami inflasi 0,84 persen pada Februari 2026. Kenaikan harga cabai rawit menjadi pemicu utama inflasi pada bulan ini.

Kepala BPS NTB, Wahyudin menuturkan, inflasi pada kali ini didorong oleh peningkatan harga pada kelompok bahan makanan, khususnya pada komoditas cabai rawit, udang basah, dan daging ayam ras.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Cabai rawit memberi andil inflasi 0,35 persen. Tingginya harga cabai rawit disebabkan oleh terbatasnya pasokan dari petani lokal, akibat gagal panen yang terjadi bersamaan dengan meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Ramadan," kata Wahyudin, seusai merilis data inflasi di kantornya, Senin (2/3/2026).

"Pada momen bulan puasa, tingkat konsumsi masyarakat cenderung meningkat dan hal ini mendorong naiknya harga bahan pangan di pasaran," jelasnya.

Selain cabai rawit, Wahyudin menyebut sejumlah komoditas lain juga turut memberikan andil inflasi pada Februari 2026. Komoditas tersebut antara lain, emas perhiasan dengan andil 0,21 persen, kemudian disusul udang basah 0,08 persen, daging ayam ras 0,07 persen, serta angkutan udara 0,06 persen.

"Kelompok transportasi juga memberikan andil signifikan terhadap inflasi, yang bersumber dari kenaikan tarif angkutan udara, angkutan laut, serta harga kendaraan bermotor. Kenaikan tarif angkutan antara lain disebabkan oleh berakhirnya masa diskon yang diterapkan pemerintah pada bulan Januari-Februari 2026," ujarnya.

Sementara itu, beberapa komoditas justru mencatatkan deflasi pada Februari 2026. Komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain, ikan teri dengan andil deflasi 0,06 persen, bawang merah 0,04 persen, tomat 0,04 persen, bensin 0,03 persen, serta ikan layang/ikan bengkol 0,02 persen.

"Penurunan harga ikan teri dan ikan layang dipengaruhi oleh melimpahnya hasil tangkapan nelayan. Faktor lain yang tutut memicu deflasi adalah kebijakan pemerintah dalam menurunkan harga bahan bakar kendaraan bermotor jenis Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex," terangnya.

Dari sisi wilayah, inflasi tertinggi terjadi di Kota Mataram sebesar 0,96 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 111,27. Disusul Kota Bima yang mencatat inflasi 0,91 persen dengan IHK 112,06. Sementara itu, Kabupaten Sumbawa 0,67 persen dengan IHK 111,60.

"Terjadi inflasi di seluruh wilayah kabupaten/kota IHK. Kenaikan harga yang sagat tinggi terjadi pada komoditas cabai rawit dan cabai merah disebabkan hasil produksi menurun akibat curah hujan tinggi, sehingga stok menipis, sementara permintaan tinggi menjelang Ramadan," tuturnya.

Sementara itu, Wahyudin menjelaskan terdapat sejumlah komoditas yang memberikan andil besar terhadap inflasi di wilayah IHK NTB. Komoditas tersebut di antaranya cabai rawit, emas perhiasan, daging ayam ras, cabai merah, angkutan udara, udang basah, cumi-cumi, kol putih, serta ikan tuna.




(hsa/hsa)










Hide Ads
LIVE