Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng menyiapkan anggaran sekitar Rp 200 miliar untuk membangun dua gedung baru di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Buleleng. Proses pembangunan gedung baru tersebut direncanakan dapat dimulai pada 2027.
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mengatakan saat ini masih dalam tahap lelang jasa manajemen konstruksi yang akan bertugas mengawal perencanaan hingga pengawasan pembangunan. Pembangunan dua gedung baru itu diharapkan dapat meningkatkan kapasitas pelayanan sekaligus mengatasi antrean pasien yang membutuhkan operasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Progres sekarang dari segi perencanaannya, bulan ini kami memutuskan untuk manajemen konstruksinya. Setelah itu baru membuat perencanaan master plan. Mungkin Desember selesai, baru kami mengadakan awal-awal lelang," kata Sutjidra, Jumat (23/10/2026).
Sutjidra menjelaskan nilai anggaran sekitar Rp 200 miliar itu masih bersifat perkiraan. Menurutnya, nilai tersebut dapat berubah setelah perencanaan lebih terperinci selesai.
"Kemungkinan bisa berkurang atau bertambah, tergantung fluktuasi harga terkini," imbuhnya.
Dua gedung yang akan dibangun terdiri dari gedung Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) dan gedung instalasi bedah sentral (IBS) serta stroke center. Kedua gedung dirancang saling terintegrasi dengan memanfaatkan ruang yang tersedia di area RSUD Buleleng.
Sutjidra menambahkan total anggaran tersebut mencakup pembangunan gedung dan fasilitas kamar operasi, belum termasuk alat kesehatan lainnya. Penambahan fasilitas juga akan diikuti dengan penyediaan ruang perawatan, termasuk Neonatal Intensive Care Unit (NICU) yang dirancang memiliki 20 tempat perawatan sesuai standar Kementerian Kesehatan.
Menurut Sutjidra, pembangunan gedung dirancang bertingkat hingga empat lantai karena faktor keterbatasan lahan. Selain menambah fasilitas pelayanan, pembangunan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas ruang operasi dan mengurangi antrean pasien yang selama ini harus menunggu jadwal operasi hingga satu sampai dua bulan.
"Masalah sekarang ini ada di IBS. Banyak antrean dari masyarakat yang baru mendapatkan jadwal operasi sebulan sampai dua bulan. Ini dari dulu menjadi masalah di RSUD karena IBS yang sekarang ada sudah tidak memadai lagi," ujarnya.
Adapun, pembangunan dua gedung baru itu diperkirakan berlangsung selama 15 bulan. Karena melewati satu tahun anggaran, Pemkab Buleleng telah mengusulkan peraturan daerah (perda) tentang tahun jamak atau multiyears kepada DPRD Buleleng.
Sutjidra menyebut manajemen RSUD Buleleng telah menyiapkan relokasi sejumlah layanan. Langkah itu diharapkan dapat menjaga pelayanan kepada pasien agar tetap berjalan selama proses pembangunan berlangsung.
"Manajemen rumah sakit sudah merelokasi pelayanan. Mudah-mudahan ini tidak mengganggu pelayanan secara umum," pungkasnya.
(iws/iws)