Antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Buleleng, Bali, membuat warga harus menginap di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Salah satunya Revan, siswa SMK Negeri 2 Singaraja asal Banyuasri, yang rela begadang demi mendapatkan bensin agar bisa mengikuti training di Lovina.
Revan mengaku sudah dua hari berturut-turut begadang untuk mengantre BBM. Pada hari pertama, dia mengantre di SPBU Banyuasri sejak pukul 01.00 Wita dan baru mendapatkan bensin sekitar pukul 06.00 Wita.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kini, dia kembali menghabiskan waktu malam di SPBU Anturan untuk mendapatkan BBM.
"Ini hari kedua begadang cari bensin. Kemarin di pompa Banyuasri, dari jam 1 baru dapat jam 6 pagi. Sekarang begitu juga," kata Revan ditemui Jumat (16/10/2026) pukul 02.00 Wita.
Dia terpaksa melakukan itu agar bisa beraktivitas seperti biasa, termasuk mengikuti training di Lovina. Kondisi antrean BBM yang panjang membuat kegiatannya ikut terganggu.
"Biar bisa besok training di Lovina. Training-nya terhambat banget. Semoga cepat normal kembali kondisinya," harapnya.
Sementara itu, warga lainnya, Diyana Putra, mengaku baru kali ini harus menginap di SPBU demi mendapatkan BBM. Menurutnya, antrean panjang yang terjadi bukan semata-mata karena warga membeli bahan bakar secara berlebihan atau panic buying, melainkan karena BBM menjadi kebutuhan untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
"Baru sekarang nginap di SPBU. Warga itu tidak panic buying, tetapi kita membutuhkan BBM. Tidak ada opsi lain membeli bensin selain di Pertamina," ujar Diyana.
Dia mengatakan tidak semua warga memiliki pilihan untuk beralih ke kendaraan listrik atau menggunakan sepeda untuk bekerja. Jarak tempuh dan kemampuan ekonomi menjadi pertimbangan.
"Saya juga belum bisa beli mobil listrik. Tidak bisa pakai sepeda untuk bekerja karena jauh," imbuhnya.
Diyana menilai situasi ini menjadi momentum untuk mengevaluasi ketersediaan transportasi publik di Buleleng. Menurutnya, angkutan umum yang memadai dapat menjadi alternatif bagi masyarakat untuk mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.
Dia menyoroti kebutuhan transportasi bagi pelajar, termasuk siswa SMA yang sudah mengendarai sepeda motor meski belum memiliki surat izin mengemudi (SIM).
"Kalau transportasi publik dimaksimalkan lagi untuk siswa sekolah, itu bisa menjadi alternatif untuk efisiensi energi. Artinya, kebutuhan energi bisa ditekan dari sektor itu," jelasnya.
Menurut Diyana, penguatan transportasi publik tidak hanya membantu masyarakat dalam kondisi antrean BBM, tetapi juga dapat menjadi langkah jangka panjang untuk menekan konsumsi bahan bakar.