Sudah satu jam Dodik mengantre untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM) di salah satu SPBU di kawasan Renon, Denpasar, Bali. Setelah melewati empat SPBU, ia akhirnya memilih mengantre di sana sebab kawasan Renon yang rindang membuatnya lebih nyaman menunggu.
Namun, waktu yang dihabiskan untuk mengantre membuatnya kehilangan kesempatan mengambil pesanan ojek online (ojol). Padahal, pekerjaan itu menjadi sumber utama penghasilannya sehari-hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Iya, nggak dapat uang. Pending dulu aplikasinya sampai dapat bensin di sini. Daripada mati di jalan, nanti dikomplain customer. Kalau sudah nggak bisa jalan, makanan yang kami antar juga nggak sampai. Daripada berabe, mending matiin dulu aplikasi. Mending antre begini," ujar Dodik saat sedang mengantre, Selasa (13/10/2026).
Sehari-hari, Dodik menerima pesanan di sekitar Denpasar. Ia mengikuti ke mana pesanan membawanya, mulai dari mengantar penumpang atau makanan dari kawasan Teuku Umar ke Renon hingga Sanur.
Dodik mengaku, meski sudah mengantre cukup lama, ia belum tentu bisa mendapatkan bensin. Ia hanya bisa berharap stok BBM masih tersedia saat tiba gilirannya. Jika bensin habis, ia terpaksa pulang tanpa penghasilan hari itu.
"Moga-moga aja masih ada nanti. Kami berdoa kalau pas sampai sana nggak ada ya bukan rezeki kami lah hari ini, pulang aja dulu tidur. Walaupun masukan nggak ada ini. Masukan hari ini nggak ada," ungkapnya pasrah.
Pengemudi ojol lainnya, Roni, juga mengaku aktivitasnya terhambat akibat antrean BBM. Waktu yang biasanya ia gunakan untuk menerima tiga hingga empat pesanan kini habis untuk menunggu giliran mengisi bensin.
"Biasanya satu jam tiga sampai empat orderan, ini satu jam cuma mepet antre BBM," ujar pria 31 tahun itu.
Meski antrean sangat mengular, dirinya tetap memilih mengantre karena BBM merupakan kebutuhan utama untuk menunjang pekerjaannya. Ia mengaku tidak punya banyak pilihan selain menunggu pasokan BBM tersedia.
"Ya, gimana lagi? Kerjanya juga ojol. Ibaratnya, bensin itu tenaga kami. Jadi, kalau terpaksa, ya ikut antre. Di mana-mana juga sama, antre di SPBU. Tiada pilihan lagi, ikut antre meskipun lama begini," tuturnya.
Baca juga: Bali Krisis BBM, Antrean Horor di Mana-mana |
Roni berencana tetap mengantre selama masih memungkinkan. Namun, jika waktu tunggu terlalu lama, ia mempertimbangkan untuk pulang.
"Iya, tetap nunggu. Tapi kalau nunggunya kelamaan, pulang. Digantung. Nanti kalau di sana mungkin ada informasi berapa lama harus menunggu," katanya.
Sebagai pengemudi ojol, ia sudah pasti mengisi bensin setiap hari. Roni hanya bisa bersabar jika esok keadaan masih sama.