detikBali

Kemenkes Perpanjang Penanganan Pascagempa NTT 2 Pekan

Terpopuler Koleksi Pilihan

Kemenkes Perpanjang Penanganan Pascagempa NTT 2 Pekan


Ahmad Firizqi Irwan - detikBali

Wamenkes Benjamin Paulus Octavianus saat ditemui di Denpasar, Jumat (28/8/2026).
Wamenkes Benjamin Paulus Octavianus saat ditemui di Denpasar, Jumat (28/8/2026). (Foto: Ahmad Firizqi Irwan/detikBali)
Denpasar -

Penanganan kedaruratan pascagempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) diperpanjang dua pekan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan penanganan medis tetap berjalan hingga 12 September 2026.

"Sampai sekarang, kedaruratan ditambah dua minggu. Kan berakhir di tanggal 28 (Agustus), diperpanjang sampai 12 September," ujar Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus saat ditemui detikBali di RSUP Prof IGNG Ngoerah, Sanglah, Denpasar, Bali, Jumat (28/8/2026).

Benjamin mengatakan bantuan, termasuk rumah sakit darurat, tetap disediakan selama masa penanganan. Tenaga medis dari Kemenkes juga diperpanjang hingga 12 September.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Semua tenaga medis tetap kita dari Kemenkes, memperpanjang sampai 12 September kedaruratan," sambungnya.

ADVERTISEMENT

Mengenai jumlah tenaga medis yang diterjunkan, Benjamin belum bisa memastikan. "Saya nggak hafal," imbuhnya.

Selain memastikan penanganan pascagempa, Benjamin menyebut program Presiden Prabowo Subianto di sektor kesehatan terus didorong, termasuk pemerataan rumah sakit dan alat kesehatan hingga daerah terpencil.

Ia menyebut masih ada 66 kabupaten di Indonesia yang belum memiliki Rumah Sakit Daerah (RSD) dan hanya mengandalkan puskesmas. Nantinya, 441 RSD akan dibangun untuk menghadirkan kesetaraan layanan kesehatan.

Benjamin juga menyoroti penanganan tuberkulosis (TBC) yang dinilainya masih terlalu berfokus pada hilir, yakni menemukan dan mengobati pasien yang sudah sakit.

"Selama ini penanganan TBC di Indonesia di nilai hanya di tingkat hilir (penemuan kasus aktif), dan pengobatan pasien sudah sakit di atas 90 persen sehingga lemah dalam pencegahan di hulu," terangnya.

Ia mencontohkan penemuan kasus TBC di Banten mencapai 119 persen dan pengobatan di atas 90 persen. Namun, kasus TBC tetap mencapai 50 ribu.

"Di Banten misalnya, penemuan kasus mencapai 119 persen dan pengobatannya di atas 90 persen. Tapi tahun depan kasusnya tetap 50 ribu. Artinya apa? Di hilir kita hebat, tapi pencegahan di hulunya parah. Kalau cara kerja kita tidak diubah, mau sampai kapan TBC bisa diberantas," ungkap Benjamin.

Menurutnya, pencegahan harus dilakukan sejak tingkat keluarga pasien TBC aktif. Orang yang tinggal serumah dengan pasien diwajibkan menjalani pemeriksaan dan menerima obat pencegahan.

"Kalau sakit langsung di obati, yang gak sakit langsung di kasih obat pencegahan. Makanya, x-ray dikirim ke puskesmas, obat-obatan pencegahan dikirim ke berbagai daerah," imbuhnya.

"Makanya sekarang kita memperbaiki pencegahannya. Kalau nggak, kasus TB gak turun-turun. Target kita ya tahun 2029, harus turun 50 persen," pungkas Benjamin.



(dpw/dpw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads