Dampak musim kemarau ekstrem di Kabupaten Jembrana, terus meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana mencatat jumlah warga yang kesulitan mendapat air bersih kini mencapai 971 kepala keluarga (KK) yang tersebar di sembilan banjar atau kelurahan di empat kecamatan.
Teranyar, kekeringan melanda dua wilayah di Desa Yehembang Kauh, Kecamatan Mendoyo, yakni Banjar Sekar Kejula Kelod (241 KK) dan Banjar Kedisan (134 KK). Sebelumnya, warga di area tersebut mengandalkan pasokan air dari sumber pegunungan.
"Sebelumnya warga di sana menggunakan air gunung, cuma karena debit sumber airnya berkurang dan kerusakan saluran pipanya, maka banyak warga yang kekurangan air bersih saat ini," ungkap Kepala Pelaksana BPBD Jembrana, I Putu Agus Artana Putra, saat dikonfirmasi detikBali, Selasa (18/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menyikapi krisis yang terus meluas, BPBD Jembrana memperbanyak penempatan tandon air bersih di lokasi strategis yang mudah dijangkau warga. Dari total 16 tandon yang dimiliki, sebanyak 14 unit telah dipasang di area terdampak, satu unit disiagakan sebagai cadangan, dan satu unit lainnya rusak.
Pengisian tandon dilakukan secara berkala menggunakan truk tangki BPBD dengan dukungan penuh dari PMI, Damkar, TNI, hingga Polri. Hingga Selasa (18/8/2026), total pasokan air bersih yang telah disalurkan ke masyarakat mencapai 170.000 liter.
"Sejak hari Minggu kemarin kita sudah distribusikan air bersih ke warga terdampak di wilayah Desa Yehembang Kauh. Jadi sudah dua kali," tambah Artana.
Bagi wilayah yang tidak terpasang tandon umum, pengiriman air dilakukan langsung ke wadah penampungan milik warga yang kawasannya masih terjangkau armada tangki.
"Untuk masyarakat yang memiliki tempat penampungan cukup besar dan bisa diakses kendaraan truk tangki, bisa informasikan ke kami agar dibantu distribusi dan disalurkan ke warga yang membutuhkan," pungkas Artana.