Ubud Folkfest 2026 sudah dimulai di Biji World, Ubud, Gianyar. Selain jadi wadah unjuk gigi bagi pelaku seni dan budaya di Bali, acara itu menyuguhkan musik dan talkshow atau diskusi dengan menghadirkan banyak narasumber dari pelbagai latar belakang.
"Ini Ubud Folkfest yang ke-5. Yang membedakan dari tahun-tahun lalu, sekarang kami punya acara talkshow. Seperti Tedtalk, yang menghadirkan banyak narasumber," kata Founder divisi musik Ubud Folkfest, Rizal Hadi, di Ubud, Jumat (14/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rizal mengatakan tak hanya pembicara dengan pelbagai latar belakang yang disuguhkan. Penampilan dari musisi dengan pelbagai genre, sejumlah pembicara, praktisi seni, dan praktisi budaya, hadir dalam pelbagai
Tidak ada agenda atau topik tertentu di tiap seni yang mereka tampilkan. Tiap musisi, pembicara, praktisi seni, dan budaya unjuk gigi membawakan keahlian mereka di bidang masing-masing.
Acaranya, dibuka dengan penampilan musik tradisional, yakni Genjek, dari komunitas sanggar seni Pondok Pekak Ubud. Lalu, ada workshop live drawing bagi pengunjung yang ingin meluapkan keterampilan menggambar atau sketsa.
Ada juga acara talkshow atau diskusi bertajuk fast forward. Diskusi itu menghadirkan sejumlah narasumber, seperti Sandra Malakiano, James Sukadana, Shinta Retnani, Gede Robi Navicula, Mark Feldman, dan Rudolf Dethu.
"Nggak ada agenda apa pun Ubud Folkfest hari ini. Visi misi kami sama, untuk menyatukan komunitas bersama dari berbagai bidang. Juga sebagai wadah para seniman untuk unjuk gigi," kata Rizal.
Rizal mengatakan tiket Ubud Folkfest dapat dibeli langsung di Biji World seharga Rp 150 ribu. Pengunjung tidak dibatasi usia atau latar belakang apa pun.
"Harga tiket tidak dibedakan. Sama rata. Apalagi ada talkshow yang biasanya lebih mahal harga tiketnya. Tetapi ini, ada workshop, music, talkshow, dan masih banyak lagi," terang Rizal.
Founder Divisi Budaya Ubud Folkfest, Ida Bagus Oka Genijaya, mengatakan seniman dan budayawan yang berpartisipasi di acara itu tidak hanya dari Bali saja. Beberapa pelaku seni dan narasumber berasal dari banyak daerah di Indonesia.
Ubud Folkfest juga tidak digelar besar-besaran. Menurutnya, hal itu untuk menciptakan kedekatan atau keintiman bagi pelaku seni dan masyarakat pecinta dari latar belakang yang beragam.
"Seniman dari Sabang sampai Merauke pernah kami undang. Beberapa kali kami undang dari Kalimantan. Mereka dengan senang hati datang dan jadi kebanggaan bagi kami," kata Genijaya.
Genijaya memastikan Ubud Folkfest pada tahun berikutnya akan menghadirkan lebih beragam seniman dan pembicara. Rencananya, sejumlah seniman dan pembicara internasional akan berpartisipasi pada Ubud Folkfest berikutnya.
"Sebenarnya, tiap tahun penyelenggaraan Ubud Folkfest, belasan seniman dan grup band internasional, ingin bergabung. Hanya, untuk saat ini masih terkendala visa. Tetapi sekarang sudah ada visa baru bagi seniman internasional yang ingin tampil di Indonesia," ucap Genijaya.
(dpw/dpw)