Penyakit jantung merupakan salah satu penyumbang kematian tertinggi di dunia. Namun, risiko penyakit jantung dapat ditekan dengan menerapkan pola hidup sehat dan mengenali gejala sejak dini. Salah satu gejala penyakit jantung terkadang mirip dengan gangguan asam lambung.
Pakar Kardiovaskular Intervensi Siloam Hospitals Bali, I Made Junior Rina Artha, menjelaskan gejala khas penyakit jantung antara lain nyeri atau rasa berat di dada seperti ditekan atau diremas yang dapat menjalar ke bagian tubuh lain. Gejala juga dapat disertai mual dan muntah, mirip dengan gangguan lambung.
"Jadi orang sakit jantung tuh yang khas dadanya berat seperti ditekan atau diremas. Ada penjalaran ke punggung, ke leher, ke tangan kiri atau dengan keringat dingin, mual, muntah," ujar Junior saat ditemui dalam acara Cardiac Symposium: From Imaging to Intervention di Hotel Prama Sanur Beach, Denpasar, Sabtu (8/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Junior mengatakan keluhan tersebut memang dapat menyerupai gejala asam lambung. Karena itu, pasien dengan keluhan lambung, terutama yang sudah lanjut usia atau memiliki penyakit lain, perlu mempertimbangkan kemungkinan penyakit jantung.
"Iya, mirip seperti itu (asam lambung). Makanya orang sakit lambung itu pun hati-hati ya, 'benar enggak sih saya sakit jantung?'," kata Junior.
Selain nyeri dada, masyarakat juga kerap mengabaikan gejala lain seperti jantung berdebar dan sesak napas. Padahal, keluhan tersebut dapat menjadi tanda awal penyakit jantung.
"Kadang dia, 'Kok ada berdebar?' atau keluhan sesak gitu. Kadang-kadang dia bilang, 'Oh, sesak paru kali ya atau apa.' Atau aktivitas jalan dikit pasiennya kok enggak nyaman, sesak, naik tangga udah sesak gitu. Padahal itu udah gejala-gejala yang udah mulai muncul sebenarnya," imbuh Junior.
Mendeteksi penyakit jantung, terang Junior, terkadang tidak mudah karena gejalanya tidak selalu khas. Terlebih, pada pasien lanjut usia dan penderita diabetes, keluhan yang muncul dapat menyerupai gangguan lambung.
"Mendeteksi penyakit jantung tuh agak gampang-gampang susah. Jadi yang khas tuh banyak, tetapi yang tidak khasnya itu yang sering. Apalagi udah usia, pasien diabetes, nah itu rata-rata keluhannya tidak begitu khas. Kadang-kadang yang disampaikan seperti gangguan lambung, kemudian pasiennya lemas, mual muntah, tetapi ternyata serangan jantung," jelas Junior.
Menurut Junior, kewaspadaan perlu ditingkatkan pada orang yang memiliki faktor risiko seperti diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, dan kebiasaan merokok.
Junior mengatakan masyarakat terkadang hanya menganggap pria dan orang lanjut usia yang dapat mengalami serangan jantung. Padahal, jenis kelamin dan usia merupakan dua faktor risiko yang tidak dapat diubah. Sementara itu, sejumlah faktor risiko lainnya masih dapat dikendalikan melalui perubahan gaya hidup.
"Itu dua hal yang enggak bisa diubah, yang sisanya yang bisa diubah. Gaya hidup karena gula, tensi tinggi, kolesterol, dan merokok. Belum lagi faktor lingkungan, genetik, nah psikososial yang lain-lain yang tentu enggak bisa kita lihat satu per satu," ungkapnya.
Junior menekankan perubahan gaya hidup juga penting dilakukan untuk mencegah penyakit jantung berulang, terutama bagi pasien yang sebelumnya sudah mengalami serangan jantung.
"Sering terjadi berulang-ulang kita edukasi, pasiennya masih merokok, pasiennya masih gula tak terkontrol, ya kembali lagi serangan. Karena tidak ada yang bisa memperbaiki tanpa edukasi yang baik buat pasien," tutur Junior.
Karena itu, ia mengingatkan masyarakat yang memiliki faktor risiko untuk melakukan pemeriksaan kesehatan lebih dini. Dengan memperhatikan gejala-gejala tersebut, seseorang dapat melakukan langkah pencegahan sebelum mengalami penyakit jantung.
(iws/iws)